Jakarta, September 2026 – Mahasiswa Program Magister Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa (PSPSR), Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada, Lysandra Zulfa Anindita, terpilih sebagai salah satu komponis muda dalam Pekan Komponis Indonesia 2026 di Taman Ismail Marzuki. Ia menghadirkan karya berjudul “Gladhen Tempur: Embleg Dhem sebagai Repertoar Bertahan” dalam Konser Karya 6 Komponis Muda Inkubasi Composers/Performance Pekan Komponis Indonesia (PKIna) 2026.
Pekan Komponis Indonesia 2026 ini diselenggarakan oleh Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) bersama Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (UP PKJ TIM) dan Indonesian Composers Collective (ICC) pada 21–27 September 2026 lalu. Mengusung tema “Tala-Talu: Listening, Remapping, Extending”, PKIna 2026 mempertemukan komponis, musisi, performer, akademisi, komunitas, dan publik untuk melihat kembali berbagai kemungkinan dalam praktik penciptaan dan perkembangan musik Indonesia. Dalam proses ini, Lysandra berkolaborasi dengan Edythia Rio (Tubaba) dan Wildan (Bandung) pada Bende, sementara ia sendiri memainkan saksofon. Dalam prosesnya, karya ini juga dimentori oleh Komponis senior bernama Joko Porong (Surabaya) serta didampingi oleh Gempur Sentosa (Bandung), Wilson Leywantono (Medan), dan Aldy Maulana (Yogyakarta).
Gladhen Tempur berangkat dari Embleg Dhem, kesenian tradisi yang menggambarkan sekelompok prajurit berkuda yang sedang berlatih menghadapi peperangan. Dalam karya ini, pengalaman ‘tempur’ tidak dibaca secara harfiah, melainkan sebagai metafora kehidupan kontemporer yang penuh perubahan, tekanan, dan ketidakpastian. Dari sana, muncul gagasan bahwa Embleg Dhem tidak sekadar digunakan sebagai sumber bunyi, tetapi sebagai repertoar untuk membaca bagaimana manusia menghadapi tekanan dan terus beradaptasi terhadap perubahan.
Karya Gladhen Tempur pada akhirnya memperlihatkan bahwa penelitian dan penciptaan tidak harus ditempatkan sebagai dua wilayah yang terpisah. Pengetahuan mengenai tradisi dapat menjadi sumber penciptaan, sementara proses penciptaan dapat menjadi cara lain untuk menguji, membaca, dan mempertanyakan kembali pengetahuan tersebut.
Kegiatan ini sekaligus menjadi sumbangsih pada Sustainable Development Goals, terutama pada poin:
- SDG 4 (Pendidikan Berkualitas): melalui diseminasi ide dan konsep pada sebuah pertunjukan seni musik.
- SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan): melalui kegiatan kolaborasi dengan beberapa artis untuk berbagi ilmu dan saling memberi kesempatan untuk berkarya. (LZA – IH)







