Bendrong Watu Blencong: Menafsirkan Kembali Kearifan Budaya di Desa Jatimulyo
Festival Bendrong Watu Blencong menyoroti dua unsur budaya: Bendrong, pola sederhana gendhing karawitan yang digunakan dalam berbagai bentuk seni, dan Watu Blencong, sebuah tempat yang berfungsi sebagai tempat para dalang wayang kulit untuk bermeditasi dan memiliki makna simbolis sebagai sumber cahaya dalam pertunjukan wayang.
Desa Jatimulyo, yang ditetapkan sebagai desa wisata oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, memiliki potensi wisata berdasarkan keanekaragaman hayati, keanekaragaman geologi, dan seni serta budaya yang berkelanjutan. Daerah ini telah dimasukkan ke dalam Cagar Biosfer UNESCO sejak 28 Oktober 2020, sehingga berfungsi sebagai zona konservasi yang mendukung penelitian, pendidikan, dan praktik budaya berkelanjutan. Dalam konteks kemajuan budaya, Desa Jatimulyo dapat mengembangkan potensi seni dan budayanya sambil menjaga keseimbangan ekologis, yang selaras dengan konsep pariwisata berkelanjutan dalam Sustainable Development Goals (SDGs).
Situs Watu Blencong, sebuah batu besar yang menyerupai lampu yang digunakan dalam pertunjukan wayang, memiliki makna simbolis yang mendalam sebagai sumber penerangan. Seiring waktu, fungsi dan bentuk blencong telah berevolusi, termasuk dalam praktik artistik. Sementara itu, gendhing Bendrong, yang secara tradisional digunakan sebagai pengiring tarian Topeng Klana, menampilkan pola berulang yang sederhana namun substansial dalam seni tradisional. Penyebaran gendhing Bendrong di berbagai daerah telah menjadikannya elemen penting dalam mengekspresikan seni tradisional.
Nilai-nilai budaya yang tertanam dalam simbol-simbol Blencong dan gendhing Bendrong perlu ditafsirkan ulang oleh perkembangan modern. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Kemajuan Kebudayaan menekankan bahwa budaya harus dilindungi, dikembangkan, dimanfaatkan, dan dipupuk agar tetap relevan dan berkontribusi pada ketahanan budaya nasional. Upaya ini membutuhkan kolaborasi pentahelix yang melibatkan akademisi, praktisi bisnis, komunitas seni, pemerintah, dan media untuk mendukung kemajuan kebudayaan.
Program Studi Seni Pertunjukan dan Seni Rupa di UGM melaksanakan inisiatif pengabdian masyarakat melalui Festival Bendrong Watu Blencong di Omah Watu Blencong, Desa Jatimulyo. Acara ini diawasi oleh Direktur Program, Dr. Rr. Paramitha Dyah Fitriasari, M.Hum. Kegiatan yang dilakukan meliputi lokakarya tentang Bendrong karawitan, Blencong, eco-printing, forum diskusi, pameran seni, dan pertunjukan yang melibatkan masyarakat setempat. Festival ini diadakan pada tanggal 17-19 November 2023, dipimpin oleh Muhammad Yudi Eko Nugroho bekerja sama dengan Kantor Pariwisata Kulon Progo, untuk meningkatkan potensi seni dan budaya serta ekosistem ekologi sebagai daya tarik utama Desa Pariwisata Jatimulyo.












