Yogyakarta, 16 Juni 2025 – Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa (PSPSR), Universitas Gadjah Mada (UGM), menyelenggarakan sesi berbagi dengan seniman visual Natasha Tontey. Acara ini merupakan bagian dari mata kuliah Seni Visual, Desain, dan Seni Media yang diajarkan oleh Dr. Rr. Paramitha Dyah Fitriasari S., Ant., M.Hum. Kegiatan ini berlangsung pada hari Senin, 16 Juni 2025, pukul 10.00 hingga 12.00 WIB, di Ruang 407 Gedung Pascasarjana UGM.
Dengan tema “Membangun Dunia Melalui Kenikmatan yang Unik: Kitsch, Autophagia, dan Hantu Leluhur,” Natasha Tontey mengajak peserta untuk mendalami praktik artistiknya. Praktik ini berakar pada imajinasi dunia alternatif, trauma kolektif, dan pengalaman budaya yang terpinggirkan. Ia menjelaskan bahwa konsep pembangunan dunia dalam karyanya tidak hanya melibatkan penciptaan dunia naratif, tetapi lebih kepada dunia simbolis dan spiritual yang kompleks dengan sistem makna yang berasal dari akar lokal.
Natasha Tontey membagikan proses kreatifnya dalam mengembangkan karya-karya seperti Primate Visions: Macaque Macabre dan The Order of Autophagia. Melalui karya-karya ini, ia mengeksplorasi hubungan antara trauma, warisan leluhur, dan kenikmatan visual yang tidak biasa. Ia menggunakan pendekatan visual yang mencolok dan kitsch, memanfaatkan warna-warna tajam, barang-barang murah, dan estetika yang “norak”. Ia memanfaatkan strategi ini sebagai metode untuk mengatasi luka antar generasi dan membuka ruang interpretatif spekulatif untuk sejarah dan identitas.
Menurut Tontey, kitsch bukan hanya elemen estetika sentimental. Ia mengubahnya menjadi alat untuk mendekonstruksi narasi dominan dan mengangkat pengalaman kelompok-kelompok yang terpinggirkan. Dengan demikian, kitsch berfungsi sebagai strategi untuk kritik budaya, sekaligus berfungsi sebagai alat untuk penyembuhan dan spekulasi untuk masa depan yang lebih inklusif.
Tontey juga menjelaskan konsep autophagia, atau “memakan diri sendiri,” sebagai metafora untuk proses penghancuran-pembangunan dalam praktik artistiknya. Melalui pendekatan ini, ia mengeksplorasi bagaimana proses tubuh, identitas, dan budaya dapat menciptakan kembali diri mereka sendiri secara reflektif dan kritis. Lebih lanjut, ia menampilkan hantu leluhur sebagai simbol trauma kolektif, kekuatan spiritual, dan warisan masa lalu yang tetap hadir dan memengaruhi dunia kontemporer.
Diskusi yang hidup selanjutnya mencakup berbagai topik penting. Para peserta membahas strategi untuk membangun narasi visual yang bermakna, memanfaatkan kitsch sebagai metode pemberdayaan, dan peran seni sebagai ruang untuk spekulasi alternatif di tengah krisis ekologis dan sosial-budaya.
Kegiatan ini secara signifikan berkontribusi pada pencapaian beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG). Pertama, kegiatan ini mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dengan menyediakan pembelajaran berbasis seni dan budaya yang kritis. Kedua, dengan menyoroti suara kelompok-kelompok yang terpinggirkan, diskusi ini selaras dengan SDG 10 (Pengurangan Ketidaksetaraan). Terakhir, melalui pelestarian memori budaya dan spiritualitas lokal dalam seni kontemporer, kegiatan ini berkontribusi pada SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan).
Sesi berbagi ini menyediakan ruang penting bagi siswa untuk memahami seni secara lebih mendalam. Mereka belajar bahwa seni bukan hanya bentuk ekspresi visual; sebaliknya, seni bertindak sebagai media untuk membentuk pengetahuan, menyuarakan perlawanan budaya, dan membayangkan masa depan yang lebih adil dan inklusif. (IP)






