Ponorogo, 27 Juni 2026 – Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan sarasehan dengan judul “Sarasehan Kajian Ergonomi Dadak Merak pada Remaja dan Dewasa di Ponorogo”. Kegiatan berhasil terselenggara dengan baik bersama Sanggar Tari Kawulo Bantarangin di Desa Kauman, Kecamatan Kauman, Ponorogo, Jawa Timur. Sarasehan diselenggarakan atas dasar program pengabdian sebagai wujud komitmen program studi terhadap Thridarma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian kepada masyarakat.
Acara sarasehan dibuka dengan penampilan musik iringan Reyog Ponorogo oleh beberapa murid sanggar bersama dengan para pelatih. Tak lupa hadir pula Mbah Molok sebagai senior peniup selompret. Beliau sangat antusias bermain bergantian dengan salah satu murid yang masih duduk dibangku SMP. Penampilan musik disambung dengan penampilan pembarong memainkan dadak merak dengan sangat indah. Para penari topeng kepala singo barong ini semuanya masih berusia di bawah 15 tahun, bahkan ada beberapa penari yang masih duduk di bangku SD. Ukuran topeng dadak merak yang dikenakan pun beragam, mulai dari ukuran kecil hingga ukuran remaja.
Kegiatan dilanjutkan dengan dialog interaktif yang dibuka oleh Dr. Heni Siswantari, M.A. sebagai MC. Dialog interaktif dipandu oleh M. Ismail Hamsyah, M.A. sebagai moderator. Pembicara di acara sarasehan tersebut adalah Nursamsi sebagai pembarong senior, Rizqi Diva Pratama sebagai pembarong remaja, dan Ginanjar Heru Cahyo sebagai pengrajin Reyog Ponorogo. Selain itu, narasumber yang menjadi pakar adalah Dr. G. R. Lono Lastoro Simatupang, M.A. dan juga Ridzwan Miftahul Aji, S.Pd.. Turut mengundang pembarong senior Soewondo dan Soewandi.
Masing-masing pembicara memberikan pengalaman mereka bagaimana awal mula berkenalan dengan topeng dadak merak serta bagaimana kendala-kendala yang dihadapi selama menari. Heru sebagai pengrajin memberikan penjelasan setiap bagian topeng yang ternyata masih jarang diketahui khalayak umum, bahkan oleh pembarong itu sendiri. Mifta mengungkapkan bahwa kajian tentang keamanan, keselamatan, dan kenyamanan tentang menarikan topeng dadak merak belum pernah terpikirkan sebelumnya, dan banyak dari penari abai tentang hal tersebut. Lono Simatupang memberikan pernyataan bahwa sarasehan ini bukan untuk mencari solusi langsung di saat itu pula, namun berbagi pengetahuan bersama sebenarnya hal apa yang perlu diperhatikan. Ke depannya masih ada peluang tindak lanjut bagaimana topeng dadak merak dari sudut pandang ergonomi.
Kegiatan sarasehan ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) terutama pada poin:
- SDG 3 (Good Health and Well-Being), turut serta memerhatikan kondisi keamanan dan kenyamanan penari topeng singo barong
- SDG 4 (Quality Education), melalui berbagi ilmu dan pengalaman, baik oleh praktisi penari maupun pemerhati seni budaya reyog ponorogo
- SDG 9 (Industry, Innovation, and Infrastructure), melalui diskusi terkait pengembangan seperti apa yang dapat dilakukan agar penari reyog dapat menari dengan aman dan selamat
- SDG 17 (Partnerships for The Goals), melalui sinergisme kerja sama antara akademisi, praktisi seni, serta lembaga terkait yang dapat mendukung keamanan dan keselamatan penari reyog. (IH)









