Yogyakarta, 25 Juni 2026 – Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa (PSPSR), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, kembali menyelenggarakan Forum 35 #2 dengan tema “Meramu Estetika Warna Nusantara: Menggali Kembali Kekayaan Warna Tradisi di Era Modern”. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian Dies Natalis PSPSR UGM sekaligus menjadi ruang pertemuan lintas disiplin antara seni, sains, teknologi, dan kebudayaan.
Diselenggarakan secara hybrid via Zoom, forum yang terbuka untuk umum ini mendapat atensi mendalam dari seluruh peserta. Suasana diskusi pun berlangsung interaktif, terutama saat memasuki sesi tanya jawab. Acara ini menghadirkan Guru Besar Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik UGM, Prof. Dr. Ir. Edia Rahayuningsih, M.S., IPU., sebagai pembicara utama. Dalam pemaparannya, pakar yang fokus pada produksi dan aplikasi pewarna alami tekstil ini menegaskan pentingnya melestarikan pewarna alami. Menurutnya, warisan tradisi Nusantara tersebut tidak hanya bernilai estetis, tetapi juga menjadi solusi nyata bagi isu kesehatan dan keberlanjutan lingkungan.
Kegiatan dibuka oleh Ketua Program Studi PSPSR UGM, Dr. Rr. Paramitha Dyah Fitriasari, M.Hum. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa Forum 35 merupakan bagian dari rangkaian Dies Natalis PSPSR UGM yang dirancang sebagai wadah berbagi pengetahuan lintas fakultas dan multidisiplin. Melalui forum ini, PSPSR berupaya menghadirkan dosen dan pakar dari berbagai bidang agar mahasiswa dapat memperluas perspektif akademiknya serta mengaitkan pengetahuan tersebut dengan kajian seni pertunjukan dan seni rupa.
Tema warna tradisi dipilih karena warna merupakan salah satu unsur estetika yang sangat penting dalam kebudayaan Nusantara. Dalam berbagai bentuk seni, seperti batik, tenun, songket, rias pertunjukan, kostum, hingga properti panggung, warna tidak hanya berfungsi sebagai unsur visual, tetapi juga memuat nilai filosofis, simbol status sosial, identitas kedaerahan, serta kearifan lokal. Banyak warna tradisi dahulu dihasilkan melalui pengolahan bahan alam seperti akar, kulit kayu, daun, mineral, dan sumber alam lainnya yang prosesnya berkaitan erat dengan pengetahuan lokal masyarakat.
Melalui perspektif teknik kimia, forum ini mengajak peserta untuk memahami bagaimana pewarna alami dapat diproduksi, dikembangkan, dan diaplikasikan dalam berbagai medium. Pembahasan tidak hanya terbatas pada penggunaan pewarna alami untuk kain, tetapi juga membuka kemungkinan pemanfaatannya dalam medium seni rupa, tata artistik, kostum pertunjukan, hingga praktik kreatif kontemporer. Dengan demikian, pewarna alami dapat dilihat sebagai jembatan antara pengetahuan tradisi, teknologi terapan, dan penciptaan seni masa kini.
Forum ini juga menyoroti bahwa hampir setiap daerah di Indonesia memiliki pengetahuan lokal mengenai pewarna alami yang diwariskan secara turun-temurun. Pengetahuan tersebut menjadi bagian dari kekayaan budaya Nusantara yang penting untuk dikaji, dirawat, dan dikembangkan kembali. Di tengah dominasi pewarna sintetis yang memiliki risiko terhadap lingkungan dan kesehatan, penggunaan pewarna alami menjadi salah satu alternatif penting dalam membangun praktik seni dan industri kreatif yang lebih berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan komitmen UGM terhadap SDG (Sustainable Development Goals):
- SDG 12 (Responsible Consumption and Production), melalui pemanfaatan pewarna alami yang ramah lingkungan,
- SDG 15 (Life on Land), terkait pelestarian keanekaragaman hayati sebagai sumber warna alami.
Melalui kegiatan ini, PSPSR UGM berharap muncul ruang dialog interdisipliner antara sains terapan dan seni, khususnya dalam membaca kembali posisi warna tradisi Nusantara di era modern. Forum ini juga diharapkan dapat mendorong lahirnya gagasan penelitian lanjutan mengenai revitalisasi warna tradisi dalam karya seni pertunjukan, seni rupa, tekstil, desain, maupun praktik budaya kontemporer lainnya. (BBAP, NA)





