Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Sekolah Pascasarjana, menyelenggarakan Kuliah Tamu bertema “Glokalisasi dan Identitas Budaya” pada hari Senin, 26 Mei 2025, pukul 13.00 hingga 15.00 WIB. Acara tersebut berlangsung di Ruang 407, Lantai 4 Gedung Sekolah Pascasarjana dan menghadirkan Prof. Dr. Ignatius Bambang Sugiharto, seorang cendekiawan dan pemikir budaya terkemuka di Indonesia.
Terbuka untuk umum, acara tersebut mendapat sambutan antusias dari para peserta, memenuhi ruangan hingga kapasitas penuh. Dalam sambutan pembukaannya, Prof. Bambang menyampaikan apresiasinya atas keterlibatan aktif para peserta, yang mencerminkan minat yang mendalam terhadap topik yang dibahas.
Acara dimulai dengan sambutan dari Kepala Program Studi, Dr. Rr. Paramitha Dyah Fitriasari, S.Ant., M.Hum., dilanjutkan oleh Agustinus Paulus Umbu Tali, M.A., yang bertindak sebagai pembawa acara. Kuliah dilanjutkan dengan presentasi Prof. Bambang, di mana beliau menekankan bahwa glokalisasi—interaksi antara budaya global dan lokal—telah membentuk dinamika budaya yang semakin cair dan kompleks. Budaya, menurutnya, seharusnya tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang statis dan eksklusif, tetapi sebagai proses terbuka dan berkembang yang dibentuk oleh pertukaran, penerjemahan, dan reinterpretasi lintas budaya.
Prof. Bambang lebih lanjut menyoroti bahwa globalisasi tidak hanya memfasilitasi munculnya identitas yang lebih inklusif tetapi juga menghadirkan tantangan serius, termasuk meningkatnya ketidaksetaraan sosial dan dominasi narasi global yang dapat merusak integritas budaya lokal. Beliau mendesak para peserta untuk tidak mengambil sikap defensif, tetapi sebaliknya untuk memperkuat komitmen mereka terhadap budaya lokal melalui eksplorasi kreatif, refleksi kritis, dan kolaborasi lintas budaya.
Dalam konteks ini, budaya dipahami sebagai ruang makna dan kekuasaan yang diperebutkan, di mana aktor sosial berkontribusi dalam membentuk cara hidup dan sistem nilai yang berkembang. Aktivisme budaya yang reflektif dan kolaboratif, menurutnya, sangat penting untuk mendorong masyarakat global yang lebih adil dan beradab.
Setelah kuliah, acara dilanjutkan dengan sesi diskusi interaktif. Para peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi, mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis yang memperkaya diskusi hingga sesi berakhir. Suasananya hidup dan merangsang secara intelektual. Acara diakhiri dengan sesi foto bersama, menandai berakhirnya pertemuan akademis yang produktif dan penuh wawasan.
Diskusi ini secara langsung mendukung tujuan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 4 (Pendidikan Berkualitas) dan Tujuan 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan), khususnya dalam memajukan literasi budaya dan melindungi warisan budaya lokal dalam menghadapi globalisasi. (AHP)







