Tiga mahasiswa Program Magister Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa (PSPSR) Universitas Gadjah Mada, yaitu Febri Anugerah, Isradina Paricha, dan Ryssa Putri Nabila, terlibat dalam kegiatan penelitian asesmen untuk Festival Lestari #6 yang diselenggarakan pada 30 April hingga 10 Mei 2026 di Provinsi Kalimantan Barat. Kegiatan ini berlangsung di tiga kabupaten, yakni Kabupaten Sintang, Kabupaten Kapuas Hulu, dan Kabupaten Sanggau, bekerja sama dengan Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) serta Banyan Art and Heritage sebagai mitra penelitian.
Penelitian ini merupakan bagian dari upaya evaluasi dampak Festival Lestari sebagai ruang kolaborasi yang mendorong pembangunan berkelanjutan berbasis budaya, lingkungan, dan komunitas lokal. Melalui pendekatan lintas disiplin, para peneliti melakukan kunjungan lapangan, berdialog dengan warga, dan menghimpun wawasan baru. Langkah ini bertujuan untuk mengapresiasi dan memahami berbagai dampak dari penyelenggaraan festival di setiap wilayah.
Asesmen difokuskan pada enam aspek utama, yaitu pengelolaan sampah dan limbah, pangan lokal, seni dan desain, dampak sosial dan aksesibilitas, warisan budaya dan komunitas lokal, serta pengelolaan lingkungan. Keenam aspek tersebut menjadi indikator penting untuk memahami kontribusi festival terhadap penguatan identitas lokal, keberlanjutan lingkungan, serta kesejahteraan masyarakat.
Pada pelaksanaannya, masing-masing mahasiswa ditempatkan di kabupaten yang berbeda. Febri Anugerah melakukan penelitian di Kabupaten Sintang dengan mengunjungi sejumlah lokasi dan komunitas yang terlibat dalam rangkaian Festival Lestari, termasuk kawasan Jentawang Hilir hingga Bukit Kelam dan ruang-ruang budaya yang menjadi bagian dari ekosistem festival. Isradina Paricha bertugas di Kabupaten Kapuas Hulu dengan melakukan kunjungan ke Desa Datah Diaan, Kawasan Sungai Utik, Taman Nasional Danau Sentarum, serta berbagai komunitas adat dan pelaku budaya setempat. Sementara itu, Ryssa Putri Nabila melakukan penelitian di Kabupaten Sanggau dengan mengunjungi Desa Adat Tae, kawasan Sungai Sekayam, serta sejumlah lokasi yang menjadi bagian dari program festival dan pengembangan masyarakat berbasis budaya.
Selain menghimpun wawasan dari lapangan, para mahasiswa juga menjalin dialog yang bermakna dengan pemerintah daerah, komunitas adat, pegiat seni dan budaya, pelaku usaha setempat, dan para pemangku kepentingan lainnya. Interaksi ini memberi gambaran yang lebih menyeluruh mengenai praktik pembangunan berkelanjutan di setiap kabupaten. Harapannya, penelitian ini dapat memberi pemahaman yang lebih mendalam mengenai peran festival sebagai pendorong pembangunan kolaboratif. Festival ini tidak sekadar menggelar acara, tetapi juga merawat hubungan jangka panjang yang positif dengan masyarakat, budaya, dan alam sekitar.
Kegiatan yang diikuti oleh mahasiswa PSPSR UGM ini sejalan dengan berbagai target Sustainable Development Goals (SDGs).
- SDG 2 (Zero Hunger), Perhatian pada pangan setempat lewat penguatan sistem pangan dari kekayaan alam sekitar.
- SDG 12 (Responsible Consumption and Production), Upaya mengelola sampah dan limbah.
- SDG 13 (Climate Action), pelestarian lingkungan.
- SDG 15 (Life on Land), pelestarian lingkungan.
- SDG 11 (Sustainable Cities and Communities), Apresiasi pada seni dan desain, warisan budaya, serta komunitas adat lewat upaya merawat identitas budaya dan memajukan peran serta warga.
- SDG 10 (Reduced Inequalities), Perhatian pada dampak sosial dan kemudahan akses dengan mengajak berbagai elemen masyarakat untuk turut serta membangun lingkungan yang adil dan inklusif. (IP)










