Program Studi Doktor Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa (PSPSR) Universitas Gadjah Mada menggelar seri kuliah tamu bertajuk “History and Memory Making Through Arts and Performance”. Acara yang berlangsung pada 6–7 April 2026 di Ruang Sidang A Gedung SPs dan Ruang 407 UGM ini menghadirkan Dr. Sadiah Boonstra sebagai pembicara utama. Dr. Boonstra, yang merupakan Research Fellow di UGM sekaligus Honorary Fellow di Melbourne University, memaparkan materi krusial mengenai Politics at Play: Indonesian Wayang, and Heritage Politics.
Pada sesi tersebut, Dr. Boonstra mengajak peserta mendalami politik warisan budaya melalui dua studi kasus utama, yakni seni pertunjukan (wayang) dan pameran. Ia menekankan bahwa heritage atau warisan budaya tidak terbatas pada objek benda saja (tangible), melainkan hidup dan melekat dalam diri manusia (embodied). Pada kasus wayang, unsur warisan takbenda (intangible) ini terpancar melalui memori, transfer lisan, serta praktik langsung oleh para dalang sebagai pemegang kunci tradisi.
Diskusi berkembang pada posisi wayang dalam masyarakat modern. Meski zaman berganti, wayang tetap populer dan relevan bagi banyak kelompok masyarakat. Secara nasional maupun internasional, wayang telah bergeser menjadi pilar budaya nasional yang mengangkat citra Indonesia. Namun, Dr. Boonstra mengingatkan adanya keterkaitan erat antara narasi sejarah dengan kepentingan politik. Sejarah sering kali menjadi hasil dari seleksi ketat. Pada masa kolonial, pihak Belanda menggunakan keahlian mereka dalam menuliskan sejarah untuk mengontrol masyarakat Jawa secara perlahan, dimulai dengan agenda untuk memahami masyarakat Jawa sampai pada akhirnya melakukan eksploitasi.
Pola pajangan di museum turut menjadi sorotan utama. Pihak kolonial cenderung menampilkan objek secara statis sebagai simbol kebanggaan atas wilayah taklukan, sering kali mengabaikan konteks nyata dan melakukan penarasian ulang terhadap koleksi tersebut. Cara penyajian ini berdampak besar karena membentuk persepsi serta ekspektasi publik terhadap suatu objek budaya. Oleh sebab itu, Dr. Boonstra mendorong mahasiswa untuk mengkritisi aktor di balik pembuatan narasi atau pameran, mengingat penulis sejarah tidak luput dari intrik dan keberpihakan politik. Pameran seharusnya mampu menyajikan konteks secara nyata dan jujur agar dapat menggugah kembali ingatan masa lalu yang tidak nyaman (unsettle past). Pendekatan ini menjadi landasan penting dalam merancang jalan menuju masa depan yang lebih adil dan dekolonial.
Penyelenggaraan kuliah tamu ini juga merupakan wujud nyata komitmen PSPSR UGM dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs):
- SDG 11 (Sustainable Cities and Communities), selaras dengan topik mengenai pelestarian dan kritis atas warisan budaya, khususnya pada target perlindungan warisan budaya dunia,
- SDG 16 (Peace, Justice, and Strong Institutions), berkaitan erat dengan diskusi mengenai dekolonisasi dan inklusivitas narasi sejarah,
- SDG 4 (Quality Education) aktivitas akademik lintas negara ini juga diperkuat melalui penyediaan akses pembelajaran berkualitas tinggi serta,
- SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi riset internasional. (IP)





