Sleman, 10 Februari 2026. Museum Ullen Sentalu bekerja sama dengan Museum Kedhaton Keraton Yogyakarta, The British Museum, dan PSPSR UGM menyelenggarakan International Museum Forum perdana dengan tema utama “Heritagisation of Museum Collections”. Acara yang berlangsung mulai pukul 09.30 hingga 12.00 WIB ini diselenggarakan secara bilingual dan menjadi wadah strategis bagi para ahli lintas negara untuk mendiskusikan masa depan pelestarian budaya.
Tema Heritagisation yang diangkat bertujuan untuk ‘menghidupkan’ kembali artefak dan objek museum. Proses ini dilakukan tidak hanya melalui pameran statis, tetapi melalui riset mendalam, pemaknaan ulang, pertunjukan seni, hingga dokumentasi prosiding yang komprehensif.
Acara dipandu oleh Dr. Rr. Paramitha Dyah Fitriasari, S.Ant., M.Hum. selaku host, dengan menghadirkan enam panelis terkemuka yang membedah koleksi museum dari berbagai sudut pandang:
- Daniel Haryono, M.Hum. (Museum Ullen Sentalu) bertindak sebagai moderator sekaligus memaparkan materi dari sudut pandang museologi.
- GKR. Bendara, M.Sc. (Penghageng KHP Nitya Budaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat) memaparkan perspektif keraton dalam pelestarian budaya.
- Dr. Alexandra Green (Curator British Museum, London) memberikan wawasan internasional mengenai akses dan pengelolaan koleksi Asia Tenggara di British Museum.
- Dr. Sri Margana (FIB UGM) mengulas perbandingan naskah Serat Damarwulan.
- Dr. Rudy Wiratama (FIB UGM) membedah koleksi wayang awal abad ke-19 milik British Museum.
- Dr. G.R. Lono L. Simatupang (Sekolah Pascasarjana UGM) memberikan simpulan mengenai pentingnya sinergi antara museum dan universitas.
Sesi tanya jawab (Q&A) diwarnai dengan antusiasme tinggi dari para peserta yang hadir secara luring. Beberapa peserta yang bertanya menyoroti pemberian makna pada benda-benda warisan budaya serta bahan baku pengganti kulit pada wayang. Sebagai penutup, Dr. Aleksandra Green menyampaikan pendapatnya mengenai pemaknaan sebuah objek, “Tidak ada kebenaran tunggal; objek yang sama dapat memiliki makna yang berbeda bagi orang yang berbeda pula. Lindungi, lestarikan, dan buka akses seluas-luasnya dengan menunjukkan semua narasi yang beragam.”
Forum ini tidak sekadar menjadi ajang diskusi akademik, tetapi juga merupakan langkah nyata dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya:
- SDG 4 (Pendidikan Berkualitas): Memberikan akses pengetahuan sejarah yang mendalam bagi publik.
- SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan): Memperkuat upaya perlindungan warisan budaya dunia.
- SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan): Membangun kerja sama antara museum nasional, internasional, dan institusi pendidikan. (NA)








