Yogyakarta, 10 maret 2026 — Pameran “Kisah dari Lemah Dadi” tidak sekadar memajang artefak pasif. Pameran ini secara gamblang menegaskan status pameran sebagai In Memoriam. Agenda ini merupakan pameran yang didedikasikan untuk berpulangnya Lucia Hartini (Agustus 2025) dan Zaenal Arifin (Januari 2026). Karya seni di sini hadir untuk menggantikan absennya tubuh fisik sang seniman. Kurator berusaha membingkai pameran ini sebagai sebuah resolusi eksistensial. Meskipun di dunia nyata jalan hidup kedua perupa ini “bersimpang arah”, institusi seni (Bentara Budaya) mencoba mempertemukan dua realita tersebut. Ruang pamer dalam hal ini bertindak sebagai medium yang mampu menyatukan dua sudut pandang berbeda. Kuratorial ini menawarkan konsep dualisme eksistensial yang klasik: tubuh sang seniman tunduk pada hukum alam yang fana, ‘semua makhluk akan kembali menyatu dengan tanah’, namun esensi mereka yang terekam dalam karya surealismenya diangkat menuju infinitas ‘harum mewangi dan terus abadi’.
Negosiasi habitus dan legitimasi ruang: perpindahan ‘kisah’ dari Lemah Dadi (sebagai wilayah pinggiran/periferi) menuju ruang eksibisi Bentara Budaya menghadirkan wacana politik ruang yang menarik untuk dikritisi. Praktik ini mencoba melakukan pergeseran habitus perupa lokal ke dalam ‘medan seni’ (art field) menggunakan kacamata Pierre Bourdieu. Di satu sisi, institusi (galeri) memberikan legitimasi yang mengubah praktik lokal menjadi karya fine art , di sisi lain mahasiswa mencatat perlunya pisau kritis untuk mempertanyakan: sejauh mana kurasi ini menjaga otonomi narasi seniman lokal tanpa mereduksinya menjadi komoditas eksotisme kultural semata? Kuratorial ini adalah sebuah ‘deklarasi melankolia’. Kurator tidak sedang menawarkan pembacaan gaya visual surealisme yang baru, melainkan sedang melakukan ‘ritual kanonisasi memori’. Kekuatan pameran ini bukan semata-mata diperoleh dari kekuatan estetik karyanya, tetapi juga bobot sejarah, narasi romantika, dan momen duka cita dari kepergian kedua perupa secara beruntun.
Kegiatan Kuliah Lapangan ini berhasil memberikan basis data empiris yang valid bahwa praksis seni rupa kontemporer di Yogyakarta khususnya dari ekosistem akar rumput seperti Lemah Dadi tidak bergerak di ruang hampa, melainkan terus berdialektika dengan realitas sosio politiknya. Pameran ini menjadi tempat yang sangat relevan bagi mahasiswa PSPSR UGM untuk mengelaborasi teori-teori makro tentang sosiologi seni dengan realitas mikro di lapangan.
Kegiatan ini juga sejalan dengan komitmen lembaga untuk mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya:
SDG 4 (Quality Education), keterlibatan langsung di lapangan memperkaya proses pembelajaran transformatif siswa di luar batas ruang kelas formal. (GM)

