4 Februari 2025 – Pada tanggal 4 Februari 2026, dua mahasiswa dari Program Magister Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Universitas Gadjah Mada, berpartisipasi dalam konferensi CREAFTA 2026: Konferensi Internasional tentang Praktik Kreatif dalam Film, Teater, dan Animasi. Konferensi ini diselenggarakan dalam format hibrida (fisik dan daring) oleh Fakultas Film, Teater, dan Animasi, Universiti Teknologi Islam Malaysia (UiTM) Malaysia, pada tanggal 3-4 Februari 2026.
Tema konferensi adalah “Inovasi, Budaya, dan Kolaborasi dalam Seni Kreatif” sebagai upaya untuk menjangkau dan mengamati perkembangan praktik seni kreatif di berbagai negara saat ini. Konferensi ini membahas beberapa aspek, seperti inovasi teknologi yang beririsan dengan praktik artistik, peran seni dalam membahas identitas budaya, praktik kolaboratif dalam industri kreatif, keberlanjutan dan arah masa depan seni, serta industri kreatif dan kebijakan budaya yang memengaruhi perkembangan seni. Pembicara utama pada konferensi ini: Profesor Emeritus Dr. Azizah Hamzah (Malaysia) dan Pembicara Pleno: Assoc. Prof. Angelo Leonard Yu (Filipina).
Pada konferensi ini, dua mahasiswa magister, Juanda M Arvis dan Yuwono Nur Utama, meninjau dan mendiskusikan temuan penelitian mereka yang berjudul “Sustaining the Independent Art Festival: Social Capital and Mutual Interest in Festival Lima Gunung”. Penelitian ini menyoroti bagaimana Festival Lima Gunung berhasil mempertahankan kemandiriannya tanpa bergantung pada sponsor perusahaan atau pendanaan pemerintah. Melalui lensa teori modal sosial Robert D. Putnam, Arvis dan Yuwono menganalisis tiga strategi utama yang menjadi jiwa festival ini: Kepercayaan, Jaringan Sosial, dan Norma Timbal Balik.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberlanjutan budaya tidak hanya ditentukan oleh jumlah modal finansial, tetapi lebih pada sejauh mana modal sosial diubah menjadi kekuatan komunitas. Temuan ini juga berfungsi sebagai kritik terhadap praktik seni komunitas yang sering memperlakukan penduduk sebagai objek ‘tokenism’ semata. Sebaliknya, Festival Lima Gunung (FLG) adalah contoh nyata kemandirian finansial, membuktikan bahwa modal sosial dapat secara efektif menggantikan modal finansial sebagai penggerak utama dalam mempertahankan sebuah acara selama beberapa dekade. Stabilitas ini berakar pada ekosistem kolaboratif yang memprioritaskan ekspresi kolektif di atas keuntungan, memastikan bahwa festival tersebut tetap tangguh dan mandiri. Seperti yang dinyatakan oleh Sutanto Mendut (Presiden Komunitas Lima Gunung), FLG tidak dikelola dengan sistem manajemen yang kaku, melainkan berfungsi sebagai ‘sejarah kecil’ yang didorong oleh kohesi sosial dan keintiman mendalam komunitas lokal.
Menurut Juanda M Arvis, Festival Lima Gunung adalah contoh nyata seni dan masyarakat, di mana semua pemangku kepentingan, termasuk penyelenggara (Komunitas Lima Gunung), masyarakat lokal, dan seniman, terlibat secara inklusif dan menikmati hubungan timbal balik yang setara. Hal ini mendorong kerja sama dan membangun kepentingan bersama di antara para pemangku kepentingan. Akibatnya, Festival Lima Gunung dapat diselenggarakan secara mandiri tanpa memerlukan sponsor atau pendanaan eksternal. Hal ini karena festival tersebut memiliki modal sosial yang kuat.
Menurut Yuwono Nur Utama, keberlanjutan Festival Lima Gunung (FLG) sebagian besar ditentukan oleh terjalinnya kepercayaan antara pihak-pihak yang terlibat. Kepercayaan ini tidak muncul secara spontan, tetapi dibangun melalui keterbukaan yang memperkuat modal sosial, kenyamanan dan partisipasi aktif, kepercayaan antar pemangku kepentingan, dan kemandirian masyarakat, yang kemudian diperkuat oleh praktik kolaboratif dan jaringan sosial.
Partisipasi Juanda M Arvis dan Yuwono Nur Utama berkontribusi pada praktik penelitian yang berkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG), yaitu:
- SDG 11: Sustainable Cities and Communities – Memberikan temuan penelitian yang menyoroti upaya untuk memperkuat identitas masyarakat dan keberadaannya di tengah dinamika kontemporer.
- SDG 17: Partnership for the Goals – Terlibat dalam konferensi yang mendorong kolaborasi antara universitas dan pakar akademis dari berbagai negara, sehingga menciptakan ruang yang luas untuk pertukaran pengetahuan (JMA & YNU)




