Yogyakarta, 29 Juni 2026 — Dua mahasiswa Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa (PSPSR) Universitas Gadjah Mada (UGM), Isradina Paricha dan Febri Anugerah, mempresentasikan hasil penelitian mereka dalam forum internasional 26th Asian Studies Association of Australia (ASAA) Biennial Conference yang diselenggarakan oleh Deakin University, Australia.
Pada konferensi tersebut, Isradina dan Febri tergabung dalam panel bertajuk “Imagining the Infrastructure of Heavens: Materialising Ideal Space in the Sacred Structures of Southeast Asia.” Sesi panel berlangsung secara interaktif dengan arahan moderator Professor Bart Ziino dari Deakin University. Panel ini juga menghadirkan akademisi lain, yaitu Abednego Andhana dari Universitas Sanata Dharma dan Pratama Dharma, mahasiswa Magister Arkeologi UGM.
Pada kesempatan tersebut, Isradina dan Febri mempresentasikan makalah berjudul “From Living Knowledge to Market Commodity: A Paradigm for the Regenerative Preservation of Kasongan’s Intangible Heritage.” Penelitian ini mengkaji bagaimana pengetahuan tradisional masyarakat Kasongan menghadapi berbagai tantangan dalam perkembangan pariwisata, dinamika pasar, serta perubahan sistem produksi.
Mengawali presentasinya, Isradina menyampaikan bahwa penelitian ini berangkat dari perhatian terhadap bagaimana kerajinan tradisional sering dipahami hanya melalui bentuk akhir dan nilai ekonominya. Padahal, di balik sebuah karya terdapat rangkaian pengetahuan, keterampilan, memori, serta praktik budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
“Ketika kita berbicara tentang kerajinan tradisional, kita sering kali hanya melihat objek akhirnya, yaitu bentuk, estetika, dan nilai ekonominya. Padahal, di balik setiap objek terdapat proses panjang yang melibatkan pengetahuan, memori, dan praktik budaya yang memungkinkan objek tersebut hadir,” ujar Isradina.
Penelitian ini mengangkat Kasongan sebagai studi kasus, sebuah kawasan yang sejak tahun 1825 memiliki peran penting dalam perkembangan budaya dan ekonomi Yogyakarta. Dengan menggunakan pendekatan mikro-etnografi, penelitian dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara dengan perajin, serta kajian sejarah lokal.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan yang melekat dalam praktik pembuatan gerabah Kasongan, mulai dari pengolahan tanah, teknik pembakaran, hingga pemaknaan bentuk-bentuk tertentu, merupakan bagian penting dari warisan budaya takbenda. Namun, pengetahuan tersebut menghadapi tantangan ketika produk budaya semakin diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar dan konsumsi pariwisata.
Melalui penelitian ini, Isradina dan Febri mengusulkan pergeseran cara pandang terhadap pelestarian warisan budaya. Pengetahuan tradisional Kasongan perlu dipahami sebagai aset budaya dan sosial, bukan hanya sebagai produk komersial. Pendekatan yang ditawarkan adalah pelestarian regeneratif, yaitu pelestarian yang tidak berhenti pada perlindungan simbol atau objek, tetapi juga menjaga keberlanjutan praktik, hubungan sosial, dan sistem pengetahuan yang melahirkannya.
Gagasan tersebut menunjukkan relevansi dengan berbagai tantangan kontemporer dalam pembangunan berkelanjutan. Pendekatan ini berkaitan dengan SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) melalui upaya menjaga keberlanjutan identitas budaya komunitas lokal. Selain itu, penelitian ini juga beririsan dengan SDG 12 (Responsible Consumption and Production) karena mendorong praktik produksi budaya yang lebih berkelanjutan, serta SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui perhatian terhadap keberlanjutan peran dan kesejahteraan komunitas perajin.
Melalui partisipasi dalam ASAA 2026, Isradina dan Febri membuka ruang dialog akademik mengenai bagaimana warisan budaya tidak hanya dipertahankan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga dapat terus berkembang sebagai pengetahuan hidup yang relevan bagi masa depan. (IP)





