The Future of Arts
“The Future of Arts” sebagai tema dies PSPSR tahun ini menggarisbawahi masa depan seni, baik dari sisi bentuk maupun posisinya, dalam konteks masyarakat kontemporer. Masa depan itu tak hanya penerusan masa kini atau proyeksi dari masa kini, melainkan terselip harapan atau kondisi yang diimajinasikan dan belum menemukan bentuknya. Selain itu, seni sesungguhnya ikut berkontribusi dalam mengukir masa depan karena seni merupakan bagian dari praktik sosial, terutama perannya dalam menciptakan dunia simbolik. Seni, kita tahu, mengusung nilai-nilai estetika yang tak hanya mengilhami, tapi juga menjadikan penghayatan hidup yang lebih intens.
Persoalan masa depan seni itu kian bertambah pelik ketika pandemi COVID-19 melanda lebih dari setahun silam dan tak kunjung usai hingga kini. Kendatipun praktik berkesenian terus berlangsung di tengah pembatasan sosial dan fisik, tak urung pandemi telah mengubah presentasi seni yang difasilitasi oleh teknologi Internet (digital). Masa pandemi telah menjadi momen kontemplatif sekaligus kreatif bagi para pelaku seni. Akibatnya, lahir moda baru penciptaan, presentasi, pewacanaan, mediasi dan sirkulasi karya seni yang mengatasi batas-batas geografis. Selain itu, masa pandemi semakin menegaskan peran teknologi yang ikut membentuk moda representasi dan presentasi karya seni serta pada gilirannya turut mentransformasi medan seni.
Meski demikian, ada sejumlah pertanyaan kritis yang bisa diajukan berkaitan dengan praktik seni di masa pandemi, antara lain:
- Apakah interaktivitas (interactivity) yang mencuat dari praktik seni di masa pandemi ini memiliki muatan relasional-nya atau lebih karena imperatif teknologis semata?
- Apakah elemen ‘bermain’ (playfulness) yang bisa ditemukan dalam ekspresi seni media baru yang berbasiskan teknologi masih mengusung semangat emansipasi (emancipation)?
- Masih relevankah berbicara tentang otonomi seni (art autonomy) di masa depan ketika teknologi yang berkelindan dengan ideologi neoliberal telah ikut mewarnai praktik berkesenian saat ini?
- Apakah mediasi terhadap liveness bisa dianggap sebagai ikhtiar mendorong pada partisipasi di kalangan penikmat seni?
Jawaban atas deretan pertanyaan tersebut, tak urung, akan membawa kita pada perbincangan ihwal relasi seni dengan masyarakat tempat seni beroperasi. Di samping itu, juga membawa pada perbincangan pada peran teknologi yang kian krusial dalam membentuk praktik seni. Tentu, teknologi mesti dipahami tidak bersifat determistik terhadap seni, namun lebih sebagai faktor yang memungkinkan bagi produksi, distribusi dan eksibisi seni.
"The Future of Arts"
Yang akan diselenggarakan secara daring pada :
🗒Selasa, 30 Maret 2021
🕞15.30-17.30 WIB
📌Zoom meeting
ARSIP SEMINAR KLIK DI SINI
Bersama :
1. Dr. Rr. Paramitha Dyah Fitriasari, M.Hum.
2. Dr. Budi Irawanto, S.I.P., M.A.
3. Dr. G.R. Lono L. Simatupang, M.A.
Atas kehadiranyya diucapkan terima kasih
Seni dan Diplomasi Budaya
Misi kebudayaan di tanah air Indonesia telah dilaksanakan setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945. Bagi Sukarno, melalui budaya Indonesia dapat menunjukkan kemerdekaannya, serta keragaman budayanya. Atas dasar itu, Sukarno telah melaksanakan misi kebudayaan dengan mengirimkan berbagai seniman ke luar negeri. Singkatnya, misi kebudayaan tersebut sejalan dengan agenda kebijakan luar negeri Sukarno. Seorang Indonesianis lainnya, Jennifer Lindsay juga menulis bahwa: Banyak misi kebudayaan dikirim ke luar negeri oleh Presiden Soekarno pada tahun 1950-an dan 1960-an. Misi tersebut, yang biasanya terdiri dari penari dan musisi, dimaksudkan sebagai ekspresi "national confidence and pride" (Lindsay, 2012: 195). Meskipun setuju dengan hal ini, dalam tulisannya Barbara Hatley menyatakan bahwa pada era tersebut memang ada agenda untuk menciptakan budaya nasional yang maju bagi bangsa Indonesia (2014: 4).
Namun, selain misi budaya, budaya kita juga telah mengunjungi berbagai negara selama era kolonial. Misalnya, pertunjukan gamelan di L'Exposition Universelle (Pameran Alam Semesta) yang diadakan di Paris pada tahun 1889 untuk memperingati 100 tahun Revolusi Prancis. Di sana, gamelan Sundanese Sari Oneng dari desa Parakan Salak, dekat Sukabumi, ditampilkan, antara lain untuk mengiringi empat penari wanita di istana Mangkunegaran, Solo (Perlman, 1994: 512; Sorrell, 1992: 66; Wachsmann, 1973: 7; Wibsiono, 2012: 12). Akibatnya, berbagai interaksi pertukaran juga menjadi pola yang berkelanjutan, tetapi dengan agenda atau tujuan yang berbeda.
Belakangan ini, misi budaya serupa masih terus dilakukan, baik yang terkait dengan pemerintah maupun sektor swasta. Bahkan dalam bentuk seni, juga telah mengalami perubahan, dari seni tradisional menjadi seni kontemporer. Alih-alih hanya mengirimkan misi budaya, berbagai kegiatan interaksi lainnya juga dilakukan, mulai dari festival hingga program residensi. Dari sini, kita dapat melihat berbagai bentuk interaksi budaya yang telah berkembang namun tetap bertujuan untuk menyebarkan Indonesia, atau mendiplomasi budaya Indonesia melalui seni. Namun, kita perlu menyelidiki lebih lanjut beberapa hal, seperti: Bagaimana konstruksi diplomasi domestik dan luar negeri dirancang? Bagaimana akademisi dan seniman dapat membaca konstruksi diplomasi budaya? Sejauh mana seni memiliki peran dalam menentukan agenda diplomasi budaya? Bagaimana diplomasi budaya memiliki daya tawar bagi seni? Hal ini penting dilakukan untuk merancang pemahaman tentang apa yang ingin diproklamirkan oleh diplomasi budaya di masa depan, dengan melihat masa lalu dan masa kini. Jika hal ini dilakukan dengan kekuatan kritis, dapat diasumsikan bahwa diplomasi budaya yang diterapkan di dalam negeri atau di luar negeri dapat bertindak secara sinergis, sehingga seni dapat memainkan peran penting dalam perancangan strategi budaya di masa depan.
Oleh karena itu, kami menghadirkan para pembicara:
Pembicara Utama:
Hilmar Farid
Pembicara Sesi Pertama:
- Jennifer Lindsay
- Nyak Ina Raseuki
- Sincere Warsito
Moderator: G.R. Lono Lastoro Simatupang
Pembicara Sesi Kedua:
- Mella Jaarsma
- Eko Supriyanto
- Dwiki Dharmawan
Moderator: Rr. Paramitha Dyah F.
Peluncuran Buku "Play and Display"
"Play and Display: Dua Mode Pergelaran Reyog Ponorogo di Jawa Timur" adalah analisis pertunjukan tari rakyat Jawa, yaitu Reyog Ponorogo. Premis dasar penelitian ini adalah pandangan bahwa makna Reyog Ponorogo secara inheren terkait dengan peristiwa pertunjukannya, dan secara kolaboratif makna tersebut dibangun dan direkonstruksi oleh para peserta seiring dengan terjalinnya peristiwa dan terlaksananya pertunjukan. Pandangan ini kemudian mengarah pada pemeriksaan unsur-unsur formal, yaitu: bagaimana unsur-unsur tersebut disusun menjadi pertunjukan dalam berbagai pengaturan ruang-waktu dan kesempatan?; Bagaimana para peserta berinteraksi dalam pengaturan yang berbeda? Melalui pencarian ini, penelitian ini menegaskan dua mode pertunjukan Reyog Ponorogo, yaitu: mode presentasional dan mode partisipatif. Buku ini mengungkapkan bahwa kedua mode pertunjukan tersebut merupakan peristiwa publik dengan kerangka temporal, spasial, dan ideasional sehingga masyarakat Ponorogo sebagai aktor dan penonton sama-sama mengalami (secara visual, auditori, fisik, dan mental) sejumlah aspek penting dari eksistensi pribadi mereka. Anggota masyarakat Ponorogo, serta warga negara. Kekuatan pertunjukan Reyog Ponorogo terletak pada kenyataan bahwa ini adalah momen bagi masyarakat Ponorogo untuk mengalami dan mengekspresikan hal-hal mendasar ini dengan cara yang menghibur, yaitu: play and display.
Berdasarkan ulasan buku tersebut, kami mengadakan peluncuran buku dengan mengundang beberapa orang:
- Garin Nugroho (Komentator Buku)
- G.R. Lono Lastoro Simatupang (Penulis Buku)
Moderator: Michael HB Raditya
Seni dan Multi-Medialitas
Seni menunjukkan kompleksitas realitas dengan menghadirkan peluang untuk menembus batas-batas 'kebiasaan umum'. Seni adalah karya kreatif di mana yang 'mustahil' menjadi 'mungkin', yang 'tersembunyi' menjadi 'terlihat', yang 'buruk' menjadi 'baik', yang 'tidak mungkin' menjadi 'mungkin', dan seterusnya. Namun, seni tidak pernah hanya mengikuti interpretasi atau akal sehat tentang realitas, tetapi menciptakan interpretasi alternatif tentang realitas.
Dalam seni, kreativitas adalah hal utama dan tidak dapat diabaikan. Namun demikian, seni bukan hanya tentang ide, tetapi selalu membutuhkan bentuk — baik visual, auditori, atau keduanya — agar dapat hadir dan dialami oleh manusia. Dalam hal ini, ide dan bentuk adalah dua dimensi yang tidak pernah terpisah dalam seni, dan tidak selalu kompatibel.
Dalam beberapa dekade terakhir, perwujudan seni tidak hanya dalam satu medium, tetapi dalam bentuk lain yang cenderung multi-media. Namun, dalam hal ini, media dapat diartikan sebagai substansi yang menghubungkan dua pihak atau lebih (Meyer, 2008; Damono, 2012). Fungsi media adalah untuk menengahi, menjadi perantara, jembatan untuk interaksi kedua belah pihak. Fungsi mediasi ini dilakukan oleh berbagai substansi (huruf, gambar, kata, gerakan, warna, dll.).
Penggunaan lebih dari satu media, atau perpindahan dari satu media ke media lain, menunjukkan bahwa setiap media sebenarnya memiliki kemampuan dan keterbatasan dalam menjalankan peran mediasi. Akibatnya, ketika seni menggunakan lebih dari satu media ekspresif, atau ketika berpindah dari satu media ekspresif ke media lain, maka tercipta ruang baru untuk kreativitas artistik. Begitu pula seterusnya.
Dalam hal ini, multi-medialitas bukan tentang mengubah bentuk, tetapi memahami cara kerja kreativitas yang berasal dari kreativitas sebelumnya, baik itu reinterpretasi, penambahan, atau pengurangan. Multi-medialitas adalah subjek yang "berisiko", karena kerja kreativitas memiliki beban yang cukup besar pada kreativitas sebelumnya, tetapi di sisi lain ia menciptakan daya tarik karena menghasilkan interpretasi baru yang disesuaikan dengan konteks.
Lebih jauh lagi, kreativitas dan tafsir akan menyediakan ruang untuk pemahaman atau makna karya seni yang dapat ditingkatkan, distabilkan, atau dikurangi. Dengan praktik multi-medialitas, makna seni terus berkembang sesuai dengan semangat zaman. Berangkat dari tarik-menarik ini, kami percaya bahwa diskusi tentang media seni terus berkembang, bahkan kami mencatat beberapa hal yang cukup penting dalam multi-medialitas, yaitu: perubahan media, kreativitas, makna, dan konteks.
Dalam mewujudkan logika ini, kami mengundang para pembicara, sebagai berikut::
Seminar Sesi Pertama
- Sapardi Djoko Damono
- Sardono W. Kusumo
- Setiawan Sabana
Moderator: G.R. Lono Lastoro Simatupang
Seminar Sesi Kedua
- Jompet Kuswidananto
- Titarubi
- Gea OF Parikesit
Moderator: Alipahadi Sills
Atas dasar ini, kami ingin membahas lebih dalam tentang seni dan multi-medialitas. Bagi kami, membahas medium dalam seni merupakan diskusi yang menarik, terutama dalam contoh karya yang merujuk pada praktik seni yang berbasis multi-medialitas.
"Kritik Pertunjukan dan Pengalaman Keindahan" launching buku dan diskusi
Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Sekolah Pascasarjana, UGM menyambut baik terbitnya Kritik Seni Pertunjukan dan Pengalaman Indah Edisi Baru ini Buku yang ditulis oleh Sal Murgiyanto - seorang praktisi seni pertunjukan sekaligus akademisi yang telah melintasi kancah seni pertunjukan dan pendidikan - memuat sejumlah kritik terhadap seni pertunjukan, khususnya tari. Dalam buku ini, kepiawaian Sal mengobarkan pengalaman batin ketika mengalami seni pertunjukan – baik sebagai penonton maupun sebagai aktor, menghubungkannya dengan tumpukan pengalaman seni pertunjukan lainnya, menyusunnya kembali menjadi rangkaian pemikiran, mendialogkannya. tentang wacana akademis, dan menuangkannya ke dalam tulisan saleh. Berkat proses diskusi yang melibatkan aktivitas fisik dan mental yang begitu intens, perasaan yang berkecamuk selama pertunjukan tidak lagi terbungkus dalam pengalaman pribadi, juga tidak menguap dalam perbincangan selepas pertunjukan. Melalui penulisan kritis ini, proses berpikir dan merasakan mengambil wujud baru berupa tulisan reflektif yang siap menjumpai pembacanya.
Buku ini tidak hanya berguna bagi para akademisi seni pertunjukan, namun juga bagi para praktisi seni pertunjukan dan mereka yang terlibat dalam penyelenggaraan pertunjukan. Bagi akademisi seni pertunjukan, buku ini memberikan contoh penerapan berbagai perspektif penting dalam kajian seni pertunjukan ke dalam wacana seni pertunjukan. Berbagai jejak wacana kajian pertunjukan, kajian tari, perwujudan, estetika, dan fenomenologi eksistensial dapat dengan mudah dikenali di sana-sini. Namun buku ini bukanlah sebuah kontemplasi teoritis untuk mengkritisi wacana akademis dalam bidang kajian seni pertunjukan. Buku ini bukanlah kritik teoretis terhadap seni pertunjukan, melainkan kritik terhadap seni pertunjukan. Alih-alih menyajikan penalaran pada tataran abstrak, buku ini bertumpu pada uraian cermat dan cerdas sejumlah peristiwa pertunjukan. Beberapa tulisan Sal dalam buku ini bisa dikatakan bercirikan etnografi kritis. Konten etnografi ini kami nilai bermanfaat bagi para praktisi seni pertunjukan dan penyelenggara acara yang kurang tertarik pada dimensi konseptual/teoritis. Di sini keakuratan uraian peristiwa pertunjukan sangat didukung oleh keakraban Pak Sal dengan dunia seni pertunjukan. Uraian pertunjukan tersebut dapat ditempatkan sebagai “sparring partner” bagi praktisi seni pertunjukan dan penyelenggara. Melaluinya, para praktisi dan penyelenggara seni pertunjukan dapat memanfaatkan beberapa pertimbangan estetika, seperti peran dramaturgi dalam seni pertunjukan.
Memang benar, peran kritik adalah untuk mendamaikan wacana akademis dengan ranah praktik, baik untuk tujuan mengembangkan pengetahuan maupun untuk menciptakan praktik-praktik baru. Buku ini berhasil menunjukkan hal tersebut. Dalam arah kritik seni seperti itu, kami memandang buku ini terlalu berharga untuk tidak diterbitkan ulang. Semoga dengan terbitnya Kritik Seni Pertunjukan dan Pengalaman Keindahan Edisi Baru ini dapat bermanfaat bagi upaya penguatan program studi seni pertunjukan di Indonesia.
Buku ini dibahas oleh:
- G.R. Lono Lastoro Simatupang
- Kris Budiman
- Sal Murgiyanto (Responders)
Moderator: Dede Pramayoza
Seminar The Power of Art
Bertepatan dengan pesta perak Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa UGM, panitia mengadakan sejumlah kegiatan yang mengusung tema “Daya Seni” atau “The Power of Art”. Serangkaian kegiatan akan dilaksanakan pada bulan Mei hingga Desember 2016, berupa orasi ilmiah, resepsi, diskusi, seminar, hingga pameran dan festival. Disadari atau tidak, disembunyikan atau diungkapkan, diakui atau disangkal, seni hadir hampir di semua bidang kehidupan manusia; masa lalu, sekarang, dan masa depan, dan di setiap sudut dunia. Kehadiran seni dalam berbagai aspek kehidupan menunjukkan bahwa seni mempunyai peranan yang tidak tergantikan dalam kehidupan manusia sebagai pribadi, masyarakat, bangsa dan negara. Menyadari hal tersebut, Dies Natalis ke-25 Program Studi PSPSR mengangkat tema “Kekuatan Seni” atau “The Power of Arts” sebagai tema payung seluruh rangkaian kegiatan.
Kekuatan artistik dipahami secara luas sebagai kemampuan yang melekat pada proses kreatif, bentuk kreatif, serta konsumsi kreatif terhadap gejala/peristiwa seni. Kemampuan pada setiap tahap rantai produksi-konsumsi-produk tidak terbatas pada kenyamanan, kekuatan ekonomi, atau daya tarik, tetapi juga kekuatan spiritual, kekuatan penyembuhan, kekuatan berpikir, dan kekuatan politik. Melalui gejala/peristiwa seni rupa, pengalaman kehidupan sehari-hari manusia yang cair dan samar-samar mendapat berbagai fokus tematik untuk berbagai tujuan. Seni tidak sekedar mewakili sesuatu yang ada di luar dirinya, seni itu sendiri merupakan presentasi realitas hidup yang tidak/jarang terungkap secara gamblang dan kuat dalam keseharian manusia: seni adalah ciptaan realitas.
Berdasarkan narasinya, seminar ini mengundang tiga pembicara, sebagai berikut:
- Prof. Bambang Sugiharto
- Dr. Paul Rae3. Prof. Dr. Friedrich von Borries
Moderator: Dr. G.R. Lono Lastoro Simatupang, M.A.
Arts and Beyond Conference
Praktik seni di Indonesia berkembang pesat dalam beberapa waktu terakhir. Isi kajian seni tidak lagi terbatas pada bidang seni saja, namun menjangkau bidang non-seni. Berbagai aspek dan perspektif non-artistik juga menjadi pertimbangan utama dalam praktik berkesenian. Kesadaran terhadap berbagai faktor, seperti: ekonomi, agama, teknologi, hukum, gender, pendidikan, politik, kesehatan, dan sebagainya, menjadi rangsangan kontekstual dalam sebuah karya (tekstual). Keterbukaan pandangan terhadap seni tidak hanya terlihat pada kondisi berubah dari aspek pendukung menjadi perspektif utama.
Hal ini tidak hanya terjadi dan berdampak pada komunitas seni saja, namun juga memberikan pengaruh besar pada civitas akademika. Kecenderungan atau trend perspektif akademis yang mewacanakan seni dari sudut pandang berbagai disiplin ilmu juga menjadi tren akademisi akhir-akhir ini. Dari sini tampak bahwa seni rupa, baik dalam bidang praktik maupun kajian, telah mengalami perkembangan yang signifikan dengan pertimbangan-pertimbangan non-artistik dalam menganalisis dan menciptakan karya seni.
"Arts and Beyond" akan membahas secara khusus tentang:
- Korelasi antara multidisiplin dan seni,
- Praktik seni yang tidak membatasi diri pada bidang seni belaka, namun juga menjangkau bidang non-seni,
- Tren/kecenderungan perspektif akademis yang mewacanakan seni dari sudut pandang berbagai disiplin ilmu,
- Keterbukaan pandangan terhadap seni yang tidak hanya mengacu pada praktik sebagai sudut pandang utama,
- Gesekan seni dengan perspektif lain dalam membahas seni.
Berangkat dari hal tersebut, kami mencoba menggali lanskap perspektif yang menjadi bahan perbincangan dalam berbagai praktik seni dan diskusi seni rupa. Arts and Beyond, merupakan tawaran kami untuk membahas permasalahan tekstual dan kontekstual yang terjadi dalam bidang praktik dan kajian.
Pada konferensi ini dilibatkan dua pembicara, sebagai berikut:
- Prof. Matthew Isaac Cohen
- Dr. Sal Murgiyanto, M.A.
Moderator: Dr. G.R. Lono Lastoro Simatupang, M.A.
Seni Politik - Politik Seni
Topik yang diangkat adalah “Seni Politik dan Politik Seni”, merupakan pembahasan mengenai hubungan teks dan kontekstual yang berkorelasi dengan seni dalam politik dan sebaliknya. Fenomena yang berujung pada Pemilu menjadi pertanyaan besar terhadap kedudukan seni itu sendiri. Seni dalam politik terkadang digunakan sebagai media dan alat dalam politik itu sendiri. Menarik untuk melihat sejauh mana kedudukan seni.
Harapannya materi dan informasi yang disampaikan dapat memberikan wawasan kepada semua lini. Baik dalam bentuk diskusi umum maupun khusus terkait hal tersebut dan dapat bermanfaat bagi semua kalangan. Mengungkap hubungannya dengan ilmu-ilmu dalam seni. Seminar ini dapat menjadi bahan refleksi bagi setiap penggiat, pemerhati, dan pecinta seni terhadap fenomena seni yang terjadi.
Dalam seminar ini kami mengundang:
Seminar Sesi Pertama
- Djaduk Ferianto
- Samuel Indratma
Moderator: Kris Budiman
Seminar Sesi Kedua
- Prof. Rachmi Diyah Larasati
- Antariksa
Moderator: G.R. Lono Lastoro Simatupang