Dalam menyelenggarakan proses belajar-mengajar, kami mengadaptasi strategi yang dikembangkan oleh Pusat Inovasi dan Kebijakan Akademik (PIKA) Universitas Gadjah Mada, yaitu menerapkan modifikasi dari Student-Centered Learning (SCL) yang disebut Student-Teacher Aesthetic Role-sharing (STAR), atau dikenal juga sebagai SCL Plus.
STAR merupakan ciri khas Universitas Gadjah Mada dalam menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi dengan menggabungkan strategi belajar-mengajar mutakhir dengan kearifan lokal dari Ki Hajar Dewantara (1889-1959) yang dikenal sebagai Trilogi Patrap Triloka: Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Melalui filosofi pendidikan ini pengajar tidak lagi berperan sebagai sumber informasi utama dalam proses pembelajaran, melainkan lebih sebagai fasilitator dan mitra belajar bagi mahasiswa. Ing ngarsa sung tuladha berarti pendidik perlu menjadi teladan bagi mahasiswanya, baik saat berada bersama mahasiswa maupun saat tidak berada di tengah-tengah mereka. Ing madya mangun karsa berarti pendidik berperan sebagai mitra belajar yang peka, aktif, dinamis, dan responsif terhadap seluruh perubahan yang terjadi dalam proses pembelajaran, terutama yang berkaitan dengan situasi dan kebutuhan mahasiswa. Tut Wuri Handayani berarti pendidik siap memberikan dorongan dan arahan kepada mahasiswa dalam proses pendidikan yang sedang berlangsung.
STAR dirancang untuk mengakomodasi lingkungan belajar yang lebih kondusif bagi dosen maupun mahasiswa. Penerapan STAR dalam proses pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan intensitas hubungan atau suasana akademik yang lebih erat dan harmonis antara dosen dan mahasiswa. Peningkatan intensitas komunikasi yang nyaman antara dosen dan mahasiswa ini nantinya akan bermuara pada efektivitas proses pendidikan.
Dalam Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, STAR dielaborasi dengan STAR-ARBU untuk mengakomodasi kebutuhan dalam menganalisis fenomena artistik. STAR-ARBU terdiri dari keunikan studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, yang meliputi:
(1) A berarti Arts (Seni): Seni pertunjukan dan seni rupa (perubahan minat spesifik, seperti tari, musik, teater, lukis, seni murni, film, fotografi, dll., menjadi seni pertunjukan dan seni rupa);
(2) R berarti Research (Penelitian): penelitian yang bersifat multi dan interdisipliner;
(3) B berarti Beyond Paradigm: melampaui paradigma yang ada; dan
(4) U berarti Up to date (Mutakhir): di mana Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa menawarkan kajian pertunjukan (performance studies) dan budaya visual (visual culture).
Berbagai metode dan strategi belajar-mengajar dikombinasikan untuk mengimplementasikan STAR-ARBU dalam aktivitas perkuliahan: kuliah interaktif, diskusi kelompok kecil, problem-based learning (pembelajaran berbasis masalah), case-based learning (pembelajaran berbasis kasus), latihan praktis, dan lain-lain. Strategi-strategi ini mendorong mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan mereka agar menjadi pribadi yang mandiri (self-directed), berpikir kritis, mampu bekerja sama dalam tim, dan menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Metode belajar-mengajar ini dibangun di atas prinsip pembelajaran aktif-konstruktif dan beberapa aktivitas lapangan, refleksi, implementasi pengetahuan sebelumnya, serta studi kritis tentang seni dan ranah lainnya. Proses pembelajaran merupakan siklus dari refleksi (mengenai fenomena yang telah terjadi), gagasan, aksi budaya, dan diseminasi (melalui presentasi dan penulisan makalah). Problem-Based Learning, Case-based Learning, serta metode STAR lainnya merupakan pilihan yang dapat digunakan untuk mendukung aktivitas STAR karena penggunaan masalah dalam proses pembelajaran dapat memicu rasa ingin tahu mahasiswa, sehingga mengarahkan mereka untuk mampu menyelesaikan masalah dengan memberikan definisi masalah dan menentukan informasi yang telah dikumpulkan atau sedang dicari. Dengan cara ini, mahasiswa akan mencoba menghubungkan informasi mereka dan menentukan topik yang akan mereka pelajari lebih lanjut. Self-directed Learning memosisikan mahasiswa sebagai generasi milenial yang sadar teknologi digital untuk memanfaatkan sumber belajar daring di berbagai situs web, basis data jurnal, serta forum daring maupun luring. Ketiga model ini kemudian diturunkan dalam bentuk partisipasi mahasiswa di kelas, menanggapi makalah, presentasi, diskusi, dan menulis makalah, dengan didukung oleh dosen yang memahami kebutuhan mahasiswa terkait perkembangan seni terkini. Model-model pembelajaran ini dirancang dan dilaksanakan dengan tujuan mencapai kompetensi lulusan yang diharapkan sesuai dengan manfaat dari setiap mata kuliah.
Demikian pula di luar kelas, metode pembelajaran dilakukan dengan mengunjungi berbagai situs bersejarah, museum, pameran seni, dan pertunjukan pada setiap perkuliahan sehingga kajian yang dilakukan terhubung dengan realitas yang terjadi di masyarakat sebagai ranah kemajuan mahasiswa setelah lulus nanti. Mahasiswa mulai diperkenalkan pada penelitian terpadu dalam mata kuliah yang ditawarkan. Pada semester kedua, mahasiswa diberikan kesempatan untuk memilih bidang studi fokus dalam bentuk mata kuliah yang sejalan dengan penelitian tesis mereka.