Yogyakarta, 27 November 2025 — Sebanyak 21 mahasiswa Program Pascasarjana Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa (PSPSR) mengikuti kuliah tentang Seni dan Pendidikan yang disampaikan oleh Dr. Bayu Tejo Sampurno, M.A. Sesi ini bertujuan untuk memperluas pemahaman mahasiswa tentang posisi seni dalam konteks pendidikan kontemporer dan untuk meneliti hubungan antara praktik artistik, pedagogi, dan dinamika sosial budaya.
Dalam presentasinya, Bayu Tejo Sampurno menekankan pentingnya memahami perkembangan seni dan pendidikan saat ini, termasuk bagaimana pendidik harus menumbuhkan keterlibatan dan relevansi dalam pendekatan pengajaran mereka. Strategi pedagogis berbasis kreativitas dan berpusat pada siswa disorot sebagai komponen kunci dalam pendidikan seni yang efektif.
Salah satu topik utama yang dibahas adalah Seni dalam Pendidikan dan Kritik Seni Kontemporer, yang diperkenalkan oleh Michelle Marder Kamhi. Kamhi mengkritik kecenderungan pendidikan seni kontemporer untuk mengabaikan bentuk dan teknik artistik tradisional demi studi ‘budaya visual.’ Ia berpendapat bahwa pendidikan seni modern, yang sering memprioritaskan hal-hal baru dan ide-ide postmodern, seringkali mengompromikan perolehan keterampilan representasional dan nilai-nilai filosofis yang tertanam dalam tradisi artistik.
Selain itu, Bayu Tejo menguraikan gagasan Jacques Rancière dan Paulo Freire, yang keduanya menantang hierarki tradisional dalam pendidikan. Mereka menegaskan bahwa setiap individu memiliki kapasitas intelektual yang sama untuk belajar dan berpikir. Pendidikan, menurut pandangan mereka, berfungsi sebagai ruang untuk emansipasi—mendorong potensi kreatif, kesadaran kritis, dan praktik egaliter dalam masyarakat.
Dalam filsafat Rancière, pengalaman estetika berperan dalam menata ulang ‘distribusi yang dapat dirasakan,’ membentuk kembali batasan mengenai siapa yang berhak berbicara, berkreasi, atau berpartisipasi dalam ranah sosial. Perspektif ini selaras dengan praktik seni kontemporer yang secara aktif melibatkan audien dan mendorong keterlibatan kritis dengan lingkungan sehari-hari. Hal ini juga sesuai dengan gagasan Mullane tentang pengalaman sensori sebagai bentuk tindakan demokratis.
Pada sesi berikutnya, Bayu Tejo mempresentasikan animasi dan permainan digital yang mengintegrasikan seni dan pendidikan. Media interaktif ini dipamerkan sebagai alat pembelajaran alternatif yang menarik, kreatif, dan menyenangkan. Kuliah diakhiri dengan antusiasme tinggi dari para mahasiswa, diikuti oleh diskusi interaktif dan sesi foto bersama sebagai dokumentasi.
Kegiatan akademik ini selaras dengan beberapa Sustainable Development Goals (SDG), menekankan kontribusinya yang lebih luas terhadap pembangunan pendidikan global. SDG 4: Quality Education, kuliah ini berkontribusi untuk mempromosikan pendidikan inklusif dan berkualitas tinggi dengan mendorong pendekatan pedagogis yang kreatif, kritis, dan relevan secara kontekstual dalam pendidikan seni kontemporer. SDG 10: Reduced Inequalities, eksplorasi filosofi pendidikan Rancière dan Freire menggarisbawahi prinsip-prinsip kesetaraan intelektual dan emansipasi, mendukung upaya untuk meminimalkan kesenjangan dalam akses pendidikan dan praktik pedagogis. SDG 17: Partnerships for The Goals, melalui peningkatan keterlibatan akademik dan dialog kritis antara mahasiswa dan dosen, kegiatan ini menumbuhkan ekosistem pendidikan yang lebih kolaboratif dan saling terhubung, sejalan dengan tujuan pembelajaran global. (AHP)






