Yogyakarta, 19 September 2025 – Program Magister Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa (PSPSR), Universitas Gadjah Mada, bekerja sama dengan Prof. Scott Thurston dan Dr. Joanna Omylinska-Thurston dari Universitas Salford, menyelenggarakan lokakarya “Interlude Space: Seni Ekspresif untuk Kesejahteraan“. Acara ini merupakan bagian dari sesi paralel Arts for the Blues, sebuah inisiatif yang berfokus pada pemanfaatan seni sebagai media untuk refleksi diri dan penyembuhan.
Lokakarya ini merupakan kolaborasi antara Teman Ketjil, sebuah program yang diprakarsai oleh mahasiswa PSPSR UGM (Dharajatya Tri Paramatatwai, Namira Azzahra, dan Yohanna Simanjutak), dan dua fasilitator dari Universitas Salford: Prof. Scott Thurston dan Dr. Joanna Omylinska-Thurston.
Seni sebagai Media untuk Ekspresi Emosional dan Penyembuhan
Sesi dimulai dengan perkenalan dan kesepakatan bersama tentang keamanan, batasan, dan kerahasiaan. Para peserta kemudian dipandu untuk melakukan latihan ‘penguatan diri’ melalui pernapasan dan pemindaian tubuh untuk menyelaraskan pikiran dan tubuh mereka. Mereka diberi kebebasan untuk menemukan posisi yang paling nyaman, baik duduk di kursi maupun di lantai. Suasana intim ini mendorong peserta untuk bersyukur dan memberikan afirmasi positif kepada diri mereka sendiri.
Sesi dilanjutkan dengan aktivitas ‘berjalan’, di mana peserta melakukan jalan kaki singkat untuk menyadari ritme dan gerakan tubuh mereka. Latihan ini menunjukkan bahwa setiap individu memiliki ritme dan kecepatan emosional yang unik.
Inti dari lokakarya, yang berjudul “In The Garden“, mengajak peserta untuk mengintegrasikan menggambar, kolase, menulis, dan puisi. Peserta diminta untuk membayangkan dan menciptakan taman ideal, yang berfungsi sebagai metafora untuk ruang aman di dalam diri mereka sendiri. Dalam sesi ini, peserta tidak hanya terlibat dalam kegiatan kreatif tetapi juga dalam refleksi mendalam. Mereka menulis tentang perasaan mereka dan kebutuhan ruang pribadi tersebut, bahkan menggunakan tangan non-dominan mereka untuk mengakses sisi emosional yang seringkali sulit diungkapkan dengan kata-kata. Kata kunci dari tulisan mereka kemudian diubah menjadi puisi, sebuah proses yang menghubungkan pengalaman pribadi dengan ekspresi artistik.
‘Interlude Space‘ membuktikan bahwa praktik seni ekspresif dapat menjembatani kesenjangan antara pikiran dan perasaan. Dengan menggunakan media non-verbal seperti menggambar dan gerakan tubuh, peserta dapat mengekspresikan pengalaman yang mungkin terlalu sulit untuk diungkapkan secara verbal, membuka pintu menuju pemahaman diri dan pemulihan emosional. Lokakarya ini tidak hanya menyatukan praktik seni dan psikoterapi tetapi juga menciptakan ruang interdisipliner yang relevan dengan kebutuhan kesehatan mental masyarakat modern.
Sustainable Development Goals (SDGs)
Acara ini secara langsung berkontribusi pada pencapaian beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), termasuk:
- SDG 3: Good Health and Well-Being: Dengan berfokus pada kesehatan mental dan kesejahteraan emosional, lokakarya ini menyediakan ruang aman bagi peserta untuk mengelola stres dan meningkatkan kesadaran diri.
- SDG 4: Quality Education: Lokakarya ini menawarkan model pembelajaran inovatif yang melampaui metode konvensional. Peserta diundang untuk belajar melalui pembelajaran langsung dan pengalaman yang mengintegrasikan seni, psikoterapi, dan pengembangan pribadi.
- SDG 17: Partnerships for The Goals: Kolaborasi antara PSPSR UGM dan Universitas Salford adalah contoh nyata dari kemitraan global yang efektif. Kedua institusi tersebut bekerja sama untuk berbagi pengetahuan dan praktik terbaik dalam mendukung kesehatan mental melalui seni.
Lokakarya ‘Interlude Space‘ menunjukkan bahwa seni memainkan peran penting dalam mendukung kesejahteraan mental dan emosional, sejalan dengan agenda global untuk menciptakan komunitas yang lebih sehat dan berdaya. (IP)






