Seni menunjukkan kompleksitas realitas dengan menghadirkan peluang untuk menembus batas-batas ‘kebiasaan umum’. Seni adalah karya kreatif di mana yang ‘mustahil’ menjadi ‘mungkin’, yang ‘tersembunyi’ menjadi ‘terlihat’, yang ‘buruk’ menjadi ‘baik’, yang ‘tidak mungkin’ menjadi ‘mungkin’, dan seterusnya. Namun, seni tidak pernah hanya mengikuti interpretasi atau akal sehat tentang realitas, tetapi menciptakan interpretasi alternatif tentang realitas.
Dalam seni, kreativitas adalah hal utama dan tidak dapat diabaikan. Namun demikian, seni bukan hanya tentang ide, tetapi selalu membutuhkan bentuk — baik visual, auditori, atau keduanya — agar dapat hadir dan dialami oleh manusia. Dalam hal ini, ide dan bentuk adalah dua dimensi yang tidak pernah terpisah dalam seni, dan tidak selalu kompatibel.
Dalam beberapa dekade terakhir, perwujudan seni tidak hanya dalam satu medium, tetapi dalam bentuk lain yang cenderung multi-media. Namun, dalam hal ini, media dapat diartikan sebagai substansi yang menghubungkan dua pihak atau lebih (Meyer, 2008; Damono, 2012). Fungsi media adalah untuk menengahi, menjadi perantara, jembatan untuk interaksi kedua belah pihak. Fungsi mediasi ini dilakukan oleh berbagai substansi (huruf, gambar, kata, gerakan, warna, dll.).
Penggunaan lebih dari satu media, atau perpindahan dari satu media ke media lain, menunjukkan bahwa setiap media sebenarnya memiliki kemampuan dan keterbatasan dalam menjalankan peran mediasi. Akibatnya, ketika seni menggunakan lebih dari satu media ekspresif, atau ketika berpindah dari satu media ekspresif ke media lain, maka tercipta ruang baru untuk kreativitas artistik. Begitu pula seterusnya.
Dalam hal ini, multi-medialitas bukan tentang mengubah bentuk, tetapi memahami cara kerja kreativitas yang berasal dari kreativitas sebelumnya, baik itu reinterpretasi, penambahan, atau pengurangan. Multi-medialitas adalah subjek yang “berisiko”, karena kerja kreativitas memiliki beban yang cukup besar pada kreativitas sebelumnya, tetapi di sisi lain ia menciptakan daya tarik karena menghasilkan interpretasi baru yang disesuaikan dengan konteks.
Lebih jauh lagi, kreativitas dan tafsir akan menyediakan ruang untuk pemahaman atau makna karya seni yang dapat ditingkatkan, distabilkan, atau dikurangi. Dengan praktik multi-medialitas, makna seni terus berkembang sesuai dengan semangat zaman. Berangkat dari tarik-menarik ini, kami percaya bahwa diskusi tentang media seni terus berkembang, bahkan kami mencatat beberapa hal yang cukup penting dalam multi-medialitas, yaitu: perubahan media, kreativitas, makna, dan konteks.
Dalam mewujudkan logika ini, kami mengundang para pembicara, sebagai berikut::
Seminar Sesi Pertama
- Sapardi Djoko Damono
- Sardono W. Kusumo
- Setiawan Sabana
Moderator: G.R. Lono Lastoro Simatupang
Seminar Sesi Kedua
- Jompet Kuswidananto
- Titarubi
- Gea OF Parikesit
Moderator: Alipahadi Sills
Atas dasar ini, kami ingin membahas lebih dalam tentang seni dan multi-medialitas. Bagi kami, membahas medium dalam seni merupakan diskusi yang menarik, terutama dalam contoh karya yang merujuk pada praktik seni yang berbasis multi-medialitas.
