• Universitas Gadjah Mada
  • Sekolah Pascasarjana
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Simaster
  • Bahasa Indonesia
    • English
    • Bahasa Indonesia
Universitas Gadjah Mada PENGKAJIAN SENI PERTUNJUKAN DAN SENI RUPA
UNIVERSITAS GADJAH MADA
  • Beranda
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Visi & Misi
    • Akreditasi dan Sertifikasi
    • Pengelola
    • Dosen
      • Evaluasi Dosen oleh Mahasiswa
    • Pengelola Layanan Akademik
    • Hubungi Kami
  • Akademik
    • Magister
      • Filosofi
      • Spesifikasi Program
      • Kurikulum
      • CPL
      • Profil Mata Kuliah
      • Pendaftaran
      • Akreditasi
    • Doktor
      • Spesifikasi Program
      • Kurikulum
      • CPL
      • Pendaftaran
      • Akreditasi
    • PORTAL DOKUMEN PSPSR
    • Jadwal Ujian
      • Jadwal Ujian Magister
      • Jadwal Ujian Doktoral
    • Kepuasan Layanan Akademik
      • Magister PSPSR 2018-2022
      • Magister PSPSR 2022/2023
      • Magister PSPSR 2023/2024
      • Doktoral PSPSR 2021/2022
      • Doktoral PSPSR 2023/2024
      • Doktoral PSPSR 2025/2026
  • Mahasiswa
    • Proses Seleksi
    • Capaian Mahasiswa
      • Kegiatan Mahasiswa
      • Publikasi Jurnal
    • Data Mahasiswa
      • Data Mahasiswa Magister
      • Data Mahasiswa Doktoral
    • Fasilitas
      • Ruang Perkuliahan
      • Laboratorium Gamelan/Seni
      • Perpustakaan
      • Student Lounge
      • Administrasi
      • Unit Penerbitan
      • Kantin
      • Unit Kesehatan
      • Tempat Parkir
  • Kegiatan
    • Pengabdian
      • 2015
      • 2016
      • 2017
      • 2018
      • 2019
      • 2020
      • 2021
      • 2022
      • 2023
      • 2024
      • 2025
    • Seminar
    • Forum Diskusi
    • Gladhi Nalar
    • Dies Natalis PSPSR
      • Dies Natalis 25 PSPSR
      • Dies Natalis 30 PSPSR
    • Open House Virtual
    • Publikasi Buku
    • Jurnal Kajian Seni
  • Alumni
    • Alumni
    • KAGAMA
    • ASPIRASI
    • Legalisasi
    • Translasi Ijazah
  • Beranda
  • Berita
  • Mahasiswa PSPSR UGM Ikuti International Field School Ke-3 Bersama UNESCO dan Kyoto University, Kembangkan Strategi Konservasi Kawasan Sumbu Kosmologi Yogyakarta

Mahasiswa PSPSR UGM Ikuti International Field School Ke-3 Bersama UNESCO dan Kyoto University, Kembangkan Strategi Konservasi Kawasan Sumbu Kosmologi Yogyakarta

  • Berita
  • 31 Juli 2026, 14.41
  • Oleh: pspsr.pasca
  • 0

Yogyakarta 31 Juli 2026, Huda Prasetya Utama, mahasiswa Program Magister Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa (PSPSR) Universitas Gadjah Mada, menjadi salah satu peserta dalam The 3rd International Jogja Field School on “The Cosmological Axis of Yogyakarta and Its Historic Landmarks: Living Heritage for the Future – Building Sustainable Conservation and Management Strategies for the Cosmological Axis Buffer Zone” yang diselenggarakan pada 6–11 Juli 2026 di Gelanggang Inovasi & Kreativitas (GIK) UGM, Yogyakarta.

Kegiatan tahunan ini merupakan kolaborasi antara UGM-UNESCO Chair in Heritage Cities Conservation and Management, Kanki Laboratory dari Graduate School of Architecture and Architectural Engineering, Kyoto University, Pemerintah Kota Yogyakarta, serta Jogja Heritage Society. Field school yang mengusung pendekatan Historic Urban Landscape (HUL) ini bertujuan untuk mengintegrasikan pemahaman nilai-nilai historis perkotaan dengan praktik keberlanjutan yang baik untuk dipraktikkan secara historis maupun kontemporer, yang membentuk kawasan buffer zone Sumbu Kosmologi Kota Yogyakarta.

Dalam field school ini, Huda bergabung dalam Grup B: Architecture – Urban Space for Traditional & Contemporary Handicraft & Visual Arts, yang difasilitasi oleh Assoc. Prof. Laretna T. Adishakti dari UGM-UNESCO Chair. Bersama rekan-rekannya Shoichi Mori (mahasiswa magister arsitektur, Kyoto University), Kartikya Ishlah Utami (PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko), serta Dian Haerani (Dinas Kebudayaan DIY). Grup B mengkaji secara mendalam ruang urban untuk kerajinan tradisional dan kontemporer serta seni visual di sepanjang Sumbu Kosmologi di Kota Yogyakarta mulai dari area Tugu Yogyakarta sampai Panggung Krapyak.

Kolaborasi lintas disiplin menjadi kekuatan utama grup ini. Huda dari PSPSR UGM membawa perspektif kajian seni rupa, Shoichi dari Kyoto University menyumbangkan keahlian arsitektur, Kartikya menghadirkan pengalaman praktis di industri pariwisata warisan budaya, sementara Dian memberikan perspektif kebijakan dari sisi pemerintah daerah. Perpaduan latar belakang ini memungkinkan grup menghasilkan pendekatan yang holistik dalam membaca dan merumuskan strategi konservasi kawasan.

 

Menghidupkan Kembali Ekosistem Kreatif Kampung Taman

Grup B menyoroti Kampung Taman yaitu kawasan di sekitar kompleks Taman Sari sebagai lokasi studi yang strategis. Terletak di dalam Sumbu Kosmologi Yogyakarta dan berbatasan langsung dengan Keraton, Kampung Taman memiliki keunikan sebagai kawasan yang memadukan arsitektur cagar budaya dengan permukiman warga yang masih hidup, sekaligus menjadi pusat ekosistem kreatif seni dan kerajinan tradisional maupun kontemporer.

Presentasi grup berjudul “Saujana Kreativa” mengangkat isu bahwa komunitas perajin di Yogyakarta masih terfragmentasi dan kurang terhubung satu sama lain. Kurangnya interpretasi terhadap warisan seni dan kerajinan Yogyakarta, serta lemahnya koneksi antara situs warisan, komunitas perajin, dan ekonomi kreatif, menjadi tantangan utama yang diidentifikasi. Selain itu, produksi kerajinan tradisional terkonsentrasi di lingkungan yang tersebar, sehingga menyulitkan pengunjung untuk menemukannya, dan belum ada gerbang utama yang memperkenalkan jaringan kreatif yang lebih luas.

 

Tiga Gagasan Utama: Pameran, Signage, dan Regulasi

Menjawab tantangan tersebut, Grup B merumuskan tiga gagasan strategis:

Pertama, pameran seni dan kerajinan yang bertujuan memperkenalkan dan memandu kekayaan kerajinan serta seni di Kota Yogyakarta, sekaligus memperingati Hari Batik Nasional. Pameran direncanakan di tiga lokasi berbeda di Kampung Taman: Gedung Carik (area dalam ruang) dengan instalasi yang menginterpretasikan kerajinan tradisional melalui tekstil batik serta struktur kayu/bambu ukiran dengan seluruh komponen pameran bersifat free-standing dan reversible untuk menjaga keaslian dan integritas situs cagar budaya; Ledoksari (area terbuka); serta Garjitowati (area harmoni).

Kedua, signage atau penanda jalan yang difungsikan sebagai karya seni publik. Mural tidak hanya memandu pengunjung menuju lokasi pameran, tetapi juga memperkenalkan sejarah Taman Sari dan Kampung Taman, memungkinkan warga lokal maupun wisatawan memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang situs warisan tersebut. Penanda kampung ditransformasikan menjadi karya seni yang lebih menarik secara visual sekaligus mencerminkan seni kontemporer Yogyakarta dan identitas lokal.

Ketiga, regulasi untuk menjaga keseimbangan antara konservasi dan pemanfaatan lokal. Saat ini, beberapa bangunan residensial menempel langsung pada bangunan cagar budaya, yang berpotensi merusak keaslian situs. Grup B merekomendasikan pelestarian komunitas residensial yang sudah ada, penyediaan jarak minimum (buffer gap) seperti koridor, pelarangan penempelan langsung pada bangunan cagar budaya, serta penetapan pedoman desain konservasi. Salah satu ide yang diajukan adalah set back 1meter dan menjadikan ruang tersebut sebagai ruang terbuka kecil.

 

Pengalaman dan Manfaat bagi Pengembangan Akademik

Bagi Huda, partisipasi dalam field school ini memberikan pengalaman berharga yang tidak hanya memperluas wawasan akademik, tetapi juga membuka sudut pandang baru dalam mengkaji warisan budaya. “Saya mendapat pengalaman baru, kawan baru, serta relasi lintas jurusan, khususnya dengan teman-teman dari arsitektur yang memiliki cara pandang berbeda dalam membaca ruang dan kawasan cagar budaya,” ujarnya. Kolaborasi dengan Shoichi Mori dari Kyoto University, Kartikya Ishlah Utami dari PT TWC, dan Dian Haerani dari Dinas Kebudayaan DIY memperkaya proses belajar dengan perspektif multidisipliner mulai dari kajian seni pertunjukan dan rupa, arsitektur dan perencanaan kota, industri pariwisata warisan, hingga kebijakan budaya pemerintah daerah.

Sebagai tindak lanjut, Grup B berencana mewujudkan gagasan pameran yang telah dirancang, sebagai bentuk kontribusi nyata dalam memperkenalkan dan melestarikan warisan kerajinan serta seni visual Yogyakarta. “Tradisional crafts preserve our identity, contemporary creativity shapes our future, and living heritage connects them both,” demikian pesan yang disampaikan dalam penutup presentasi kelompok. 

Partisipasi Huda Prasetya Utama dalam The 3rd International Jogja Field School ini sejalan dengan komitmen PSPSR UGM dalam mendorong mahasiswa untuk terlibat dalam forum akademik internasional dan kolaborasi lintas disiplin, sekaligus mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pada poin:

  • SDG 4 (Quality Education): dalam hal berbagi ilmu pengetahuan terkait strategi konservasi kawasan Sumbu Kosmologi Yogyakarta
  • SDG 11 (Sustainables Cities and Communities): dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan untuk keberlangsungan keberlanjutan suatu wilayah, terutama Yogyakarta
  • SDG 17 (Partnerships for The Goals): dalam hal keikutsertaan kegiatan sosial antara UGM dengan mitra untuk mencapai tujuan (HPU, IH)

 

 

 

Tags: SDG 11: Sustainable Cities and Communities SDG 17: Partnerships for the Goals SDG 4: Quality Education

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Berita Terakhir

  • Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2026/2027 (Semester Genap)
  • Call for Abstracts: Simposium Interdisipliner “Ecosystem on Artivism”
  • Beyond the Gate: PSPSR UGM Sambut Mahasiswa Baru S2 dan S3 TA 2026/2027
  • Bimbingan Intensif Mahasiswa Doktoral PSPSR UGM
  • Monitoring Disertasi Mahasiswa Program Doktor PSPSR UGM
Universitas Gadjah Mada

Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa
Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada

Gedung Unit 2 lantai 1 Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada
Jl. Teknika Utara, Pogung, Sleman, Yogyakarta, 55284

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY