Mendengarkan dan Menyaksikan Keberagaman Tubuh | oleh: Michael HB Raditya

Dihelat pada dua hari di akhir bulan Oktober, Festival yang bertema The Power of Art menghelat pertunjukan musik yang bertajuk Betwixt and Between (28/10) dan pertunjukan teater dan tari yang bertajuk Divergent of Embodiment (29/10). Berbeda fokus dan konten pertunjukan, kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka Dies Natalis ke-25 Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa (PSPSR), Universitas Gadjah Mada ini berkeinginan untuk menerapkan wacana daya seni yang berkaitan dengan pelbagai faktor di luar seni. Alih-alih hanya berupa wacana yang diproduksi dari meja seminar ataupun konferensi, PSPSR mengandalkan praktik seni sebagai medium dalam menyampaikan gagasan tersebut.

Pada pertunjukan musik yang bertajuk Betwixt and Between, festival ini turut dimeriahkan oleh tiga musisi lintas genre, yakni: Frau serta Riski Summerbee and The Honeythief yang berasal dari Yogyakarta, dan SambaSunda yang berasal dari Bandung. Ketiga musisi inilah yang dirasa dapat mewakili pesan Betwixt and Between, yang secara singkat dipahami sebagai posisi pengaruh yang berada di antara ataupun berada di keduanya. Secara lebih sederhana dapat dipahami sebagai efek Barat dan Timur. Di mana RSTH memainkan musik Barat dan bernarasi akan isu lokal, demikian yang dilakukan oleh Frau. Sedangkan SambaSunda, terlepas dari eksistensi pertunjukan yang lintas benua, SambaSunda dianggap sebagai perpaduan antara musik Barat dan Timur, menjadi keduanya.

Diawali dengan penampilan Frau, para penonton diajak menikmati musik sederhana bernuansa magis dari dentingan piano dan suara unik Lani. Tidak hanya satu arah, Lani turut mengajak penonton untuk berpartisipasi dalam bernyanyi pada salah satu repertoarnya. Malam itu Frau memberikan penampilan yang impresif dan memanjakan telinga penonton dengan sangat. Penampil selanjutnya adalah RSTH, dalam hal ini RSTH telah memberikan sajian musik ala Barat dengan wacana yang terjadi di keseharian kita. Bernuansa musik psychedelic rock dengan balutan folk, RSTH telah memberikan warna musik yang berbeda di malam itu.

Sedangkan penampil terakhir di pertunjukan musik tersebut adalah SambaSunda. Sebuah projek musik hasil perpaduan organologi musik Barat dan Timur membawakan lagu-lagu tradisi Jawa Barat. Berjumlahkan lebih dari 15 orang di atas panggung dengan membawakan organologi yang beragam membuat sajian musik saling mengisi dan terasa penuh. SambaSunda telah menutup pertunjukan malam itu dengan rangkaian musik yang berkualitas. Tidak hanya mengandalkan musik, festival yang dihelat di halaman belakang Gedung Lengkung, Sekolah Pascasarjana UGM ini turut dihiasi instalasi lampu yang merajut antar dahan pohon membuat kesan terasa lebih romantis. 

Sedangkan pada hari berikutnya, dua nomor teater dan satu nomor tari dihelat di Gedung Lengkung, Sekolah Pascasarjana. Bertajuk Divergent of Embodiment, pihak panitia ingin menunjukan pelbagai konteks dalam satu tubuh. Proses tinubuh dari kultur tertentu membuat seseorang mempunyai beragam latarbelakang, baik kultural, ataupun sosial. Sehingga berbicara tentang tubuh tidak akan dapat merujuk pada tubuh anatomis, namun tubuh yang dikonsepsikan oleh pelbagai kontekstual terjalin. 

Lantas PSPSR mempercayakan hal ini pada dua teatrawan, yakni Tony Broer dan Wendy HS dengan Teater Tambologi Padangpanjang, serta satu koreografer yang sedang di puncak popularitas, Eko ‘pece’ Supriyanto, untuk membumikan wacana tersebut. Tanpa bersusah mengikuti konsep yang dibuat, tiga seniman ini telah memberikan keberagaman tubuh yang dicari di dalam pertunjukan tersebut dengan sendirinya. 

Tony Broer, seorang pekerja teater yang kini terinspirasi Butoh—sebuah kesenian di Jepang—, mengandalkan tubuhnya dengan sangat kuat. Dalam karya yang berjudul Tu(m)buh, Tony benar-benar memaksimalkan atas kemampuan apa yang dipunya oleh tubuhnya. Seperti ingin menghantarkan rasa sakit ataupun senang, Tony memilih untuk menggunakan tubuh sebagai mediumnya. 

Sedangkan Wendy HS dan Teater Tambologi Padangpanjannya memberikan sajian yang unik nan menarik. Menggunakan metode yang sama dengan kesenian Tepuk Galembong—menepuk kain bagian bawah—, repertoar  yang berjudul Jilatang is Installed bertumpu pada akustik ruang. Beberapa kali bermonolog, suara lantang dan garang Wendy HS seakan bersinergis dengan gerak dan musik ritmis yang diciptakan secara sederhana. Berlatarbelakang Minangkabau, pertunjukan Wendy memberikan impresi kultural yang kuat.

Sedangkan pertunjukan yang dipilih untuk menutup rangkaian keseluruhan Dies Natalis 25 tahun ini adalah repertoar Tra.Jec.To.Ry karya Eko Supriyanto. Bernafaskan pencak silat, Eko secara cermat menarik esensi dari silat dengan impresi maskulin dan gerak repetitif. Kendati ciri khas silat sudah samar-samar terlihat, namun dalam karya ini Eko telah memberikan sebuah gambaran tubuh reflektif dalam menyikapi kebudayaan. 

Bertolak dari ketiga pertunjukan, kendati tidak semua karya bukan kali petama dihelat, namun karya-karya terpilih seakan dapat memberikan pesan yang ingin disampaikan bahwa seni dapat menunjukan keberagaman tubuh manusia yang tidak dapat dilihat oleh pelbagai sudut pandang lainnya, dan di sinilah seni mempunyai daya untuk memberikan kesadaran akan kehidupan, baik atas masa lalu, masa kini, ataupun masa mendatang.[]