ARTS AND BEYOND

Praktik seni di Indonesia berkembang masif dan pesat belakangan ini. Konten kajian
seni tidak lagi terbatas pada bidang artistik, namun menjangkau wilayah non seni.
Pelbagai aspek dan perspektif non-seni turut menjadi pertimbangan utama dalam praktik
berkesenian. Kesadaran akan pelbagai faktor, seperti: ekonomi, agama, teknologi, hukum,
gender, pendidikan, politik, kesehatan, dan sebagainya, menjadi stimulasi kontekstual dalam
penciptaan sebuah karya (tekstual). Keterbukaan pandangan akan seni yang tidak hanya
merujuk pada praktik beralih dari aspek pendukung menjadi perspektif utama.

Hal ini pun tidak hanya terjadi dan berdampak pada sivitas artistika, namun turut
berpengaruh besar pada sivitas akademika. Kecenderungan atau tren perspektif akademis
yang mewacanakan seni melalui sudut pandang disiplin ilmu yang beragam, turut menjadi
laku dari para akademisi akhir-akhir ini. Dari hal tersebut telah terejewantahkan bahwa
gelagat seni, baik pada bidang praktik, maupun kajian, telah mengalami perkembangan
yang signifikan dengan mempertimbangkan perspektif non-seni dalam menganalisa dan
menciptakan karya seni.

“Arts and Beyond” akan membahas secara spesifik perihal:

  1. Korelasi antara multidisiplinalitas dengan seni,
  2. Praktik seni yang tidak membatasi diri pada bidang artistic semata, tetapi juga menjangkau wilayah non-seni,
  3. Kecenderungan / trend perspektif akademis yang mewacanakan seni melalui sudut pandang disiplin ilmu yang beragam,
  4. Keterbukaan pandangan akan seni yang tidak hanya merujuk praktik sebagai perspektif utama.
  5. Gesekan seni dengan perspektif lainnya dalam membahas seni.

Bertolak dari perihal tersebut, maka kami berupaya untuk mendalami lanskap perspektif
yang telah menjadi perbincangan dalam pelbagai praktik kesenian dan diskusi akan seni.
Arts and Beyond, menjadi tawaran kami dalam mendiskusikan persoalan tekstual dan
kontekstual yang terjadi pada bidang praktik maupun kajian.

Sebenarnya Arts and Beyond Conference terinspirasi dari seminar serupa yang telah dibuat
sebelumnya, yakni Seni Politik Politik Seni, yang dihelat pada 19 Maret 2014. Seminar
tersebut terbagi atas dua sesi, sesi sivitas artistika yang mengundang Samuel Indratma
(seniman), Djaduk Ferrianto (seniman), yang dimoderatori oleh Dr. Kris Budiman; serta
sesi sivitas akademika yang mengundang Antariksa dan Prof. Rachmi Diyah Larasati,
yang dimoderatoi oleh Dr. G.R. Lono Lastoro Simatupang. Dengan keberhasilan akan
pembahasan tema politik dan seni, serta keterlibatan peserta yang penuh sesak. Maka Prodi
PSPSR membentuk sebuah formula diskusi yang tetap, yakni Arts and Beyond Conference.
Dihelat perdana pada tanggal 5 September 2015, format seminar yang mengundang Prof.
Matthew Isaac Cohen (Royal Holloway) dan Dr. G.R. Lono Lastoro Simatupang, semakin
lengkap dengan ditambah akan format panel diskusi. Merasa yakin akan format tersebut,
maka Prodi berencana untuk mengadakan Arts and Beyond di tiap tahunnya.

https://artsandbeyondconference.wordpress.com