NEGOTIATION WITHIN URBAN CULTURE

Dalam sesilangan budaya yang terjadi di ruang urban, seperti halnya kota Yogyakarta, maka negosiasi berlangsung dalam upaya menyelami, memanfaatkan, atau mempertahankan budaya kota yang kerap kali berkelindan dengan praktik-praktik lain seperti perdagangan bebas dan politik kekuasaan, misalnya. Beberapa memaknai budaya urban sebagai pedoman hidup masa kini, sementara yang lain ia tak lain adalah ancaman atas eksistensi. Paradigma multikutural mungkin lebih menemukan tempatnya di lorong-lorong kumuh kota, dibanding di asri-nya pedesaan. Sebaliknya, gagasan kuat mungkin akan tenggelam dan menjadi hal yang biasa dalam kerumunan. Atas dasar itulah negosiasi harus diberlangsungkan. Di antara laju mobil yang terhambat dan lampu-lampu kilat, urban adalah sebuah ruang berunding untuk menentukan arah budaya yang mulai tak menjadi tradisi, keberadaan yang tak mungkin ada bagi beberapa, serta berada pada arus gelombang yang sama bagi yang sepaham dan serupa. Lalu bagaimana dengan seni? Negotiating with-In Urban Culture adalah telisik paradigma budaya urban dan paparan atas negosiasi yang berlangsung dan sekaligus pergelaran estetis atas bagaimana negosiasi kesenian berlangsung dengan dan dalam budaya urban.

 

Atas dasar itulah perhelatan musik-tari Negotiation With-In Urban Culture Dihelat. Menampilkan band folk-rock Jalan Pulang dan Orkes Melayu Dekan Buanan sebagai refleksi populis atas masyarakat kota dan video mapping seniman visual Raphael Donny akan menghadirkan kemanjaan audio dan visual.

Sementara grup rocn n roll Kasino Brothers menampilkan budaya populer yang berkembang di kalangan anak muda, Chakil Squad dan Raminten Cabaret show akan menghadirkan negosiasi lain dalam bentuk tari. 

 

NEGOTIATION WITH-IN URBAN CULTURE
 

Halaman Gedung Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada 
22 Oktober 2016 l Pukul 19:00 l Gratis
 

TrumpetEzra

Jalan Pulang

Chakil Squad

Kasino Brothers​

​Raminten Cabaret Show

Orkes Melayu Dekan Buayan

Visual Mapping : Raphael Donny​